Rabu, 14 Juni 2023

hari senggang

untuk hari ke-14 #NulisRandom2023; dari akun writeas sebelah.

(sekalian untuk pengingat—karena berhenti sesekali di tengah menulis sangat wajar.)

---


Ada yang pernah bertanya padaku; apa wajar untuk menghukum diri sendiri karena gagal memenuhi target sebulan penuh?

Jika kuingat lagi, suara yang bertanya saat itu tidak terdengar anggun. Suaranya cempreng, seperti anak kecil... juga seperti tidak asing di telinga.

Anak itu bertanya di keheningan malam, saat sinar bulan tertutupi awan, tidak mengenai wajahnya sama sekali. Jendela kamarku terbuka, dan angin yang berhembus dari luar memainkan tirai yang terikat rapi, tapi aku tidak tahu ke arah mana rambutnya berhembus.

Bahkan aku heran, seperti apa rupa anak ini?

“Target yang bagaimana maksudmu?”

“Begini, Kak.” Kursi yang dia duduki di sebelahku berderit sedikit. Sedang apa anak ini? “Aku mematok diriku untuk rajin menulis sebulan penuh setiap tahun. Tahun lalu aku berhasil melakukannya sebulan penuh... tapi kemarin aku lupa. Aku terlalu asyik menonton sampai lupa waktu, lalu sebelum kusadari, Ibu sudah menyuruhku tidur dari luar.”

“Oh...”

Pensil kumainkan. Rambut yang menutupi dahi kutiup asal. Pikiranku berkelana asal, karena bagaimana bisa seorang anak kecil sudah terpikir untuk menghukum dirinya sendiri?

“Tahun lalu kau hebat, kok. Pun tahun ini. Kuakui itu pertama-tama.”

Maka itu yang kukatakan pertama-tama. Aku tidak langsung lanjut berbicara, karena tetiba aku pun teringat pernah mengalami keadaan serupa. Dulu sekali, mungkin sepuluh tahun lalu.

“Tapi manusia tumbuh, bukan?” kuhirup teh panas di sisi. “Kita tidak akan bisa senantiasa rutin menulis selama sebulan penuh selama bertahun-tahun.”

“Eeeeh, kenapa?”

“Banyak alasannya.” Kini kepalaku pula kurebahkan di meja. “Hidup kita yang membuat kita begitu. Terkadang semangat menulis kita hilang, padahal waktu kita luang. Terkadang kita sangaaat ingin menulis, tapi kita pun ingat; ada tanggung jawab yang harus kita tunaikan terlebih dulu.”

Suara anak itu mengecil, seperti malu hendak mengakui kesalahannya.

“Tapi aku... lupa... atau malas. Itu salahku sendiri...”

“Bukan. Mungkin suasana hatimu sedang tidak pas. Mungkin kau menyebut dirimu malas, padahal sebenarnya kau lelah. Rutin menulis setiap hari seiring umur kita bertambah bukan sesuatu yang mudah, kau tahu itu?”

Awan yang semula menutupi bulan kini bergerak, memberi ruang bagi sinarnya untuk menerangi kamarku sedikit demi sedikit, membuat mataku mulai bisa mengenali ada barang apa di mana, jam menunjukkan pukul berapa, dengan siapa aku kini tengah berbicara.

Seorang anak usia belasan awal, yang kepalanya kini kuusap, yang begitu mirip denganku waktu kecil dulu.

“Jadi untuk kemarin, anggap saja itu hari senggangmu. Ya? Anggap itu sebuah hadiah; satu kesempatan untukmu beristirahat setelah berusaha keras selama dua belas hari kebelakang.”

Jumat, 11 Desember 2020

filosofi layangan

(a little note: character recycle because why not?)

Namanya Melati Astari, tujuhbelas tahun.

Pada sekilas pandang, aku sempat mengiranya baru menginjak belasan, ketika pada kenyataannya tidak sama sekali.

Maksudku; siapa yang tidak akan tertipu dengan paras imut putih dan rambut lurus sebahunya? Lain sekali denganku yang wajah pun sudah bertebaran jerawat karena terlampau banyak pikiran.

Hanya saja, kendati baru dua hari aku mengenalnya sebagai tetangga sebelah rumah, aku seketika kagum padanya. Bukan hanya pada suara tinggi melengkingnya yang lihai bernyanyi tidak pandang waktu, situasi, dan kondisi, namun juga pada cara pandangnya yang eksentrik tentang dunia.

Kadang aku tak percaya dia seangkatan denganku, yang setahun lagi akan lulus sekolah menengah atas.

“Mytha, mau main layangan, nggak?”

Ini baru hari ketiga semenjak dia baru pindah ke sebelah rumahku, namun lagi-lagi Melati sudah akan mengajakku melakukan hal yang aneh. Kemarin kami sudah jadi bahan pajangan seni hidup sepanjang hari di dekat kawasan Kota Tua, lalu saat hari pertamanya tiba dia langsung mengajakku bersepeda sore-sore di tengah kemacetan ibukota.

“Main layangan?” Aku mengernyitkan dahi padanya. “Mel, kita ini perempuan, lho. Udah gede pula.”

“Ya terus kenapa?”

“Entar apa kata anak-anak yang lain kalau mereka ngeliat kita? Nggak malu apa diketawain mereka gegara udah gede tapi mainannya masih layangan?”

“Ngapain peduli kata orang?”

Ah, sial. Senyuman itu disunggingnya lagi. Kalau sudah begini, kalah telak sudah aku dengan permintaannya. Persis seperti yang sudah-sudah.

“Aku udah siapin layangannya kok, tenang aja.” Melati menarik tanganku menuju pagar rumahnya, tampak dua buah layangan sudah tergantung di sana. Sebuah biru, sebuah lagi ungu.

Lalu, sembari memberikan layangan biru kepadaku, kembali dia tersenyum usil. “Tenang aja Myt, kamu beruntung banget udah bisa ketemu aku. Aku bakal ngajarin kamu main layangan sampai kamu lebih jago dari aku! Kukasih pinjam yang biru oke, soalnya yang ungu kesayanganku banget!”

Ya ampun. Sekarang dia menyangka aku tidak bisa main layangan sama sekali.

“Aku tuh bukannya nggak bisa, Mel...”

“Oh ya?” Seketika pandangannya berbinar. “Berarti sore ini kita bukannya sesi tutorial layangan, tapi adu layangan sampai putus, gitu?”

Aku terdiam sebentar, berusaha mencari apa alasan yang bisa kugunakan untuk mengelak baik-baik darinya. Sayangnya, besok hari Minggu, dan semua tugasku sudah kukerjakan sejak kemarin malam.

“Nggak usah adu layangan kan juga bisa—”

“—oke kalau gitu kita main kasual aja! Pulangnya kita beli ayam geprek di dekat pertigaan yang kamu pernah bilang enak itu. Gimana?”

Memang kalah telak sudah aku.

Kurasa satu-satunya persamaanku dengan Melati adalah fakta bahwa kami sama-sama pernah menjadi anak kampung yang hobi main layangan setiap sore sepulang sekolah dulu.

Layangan kami tetap menjulang tinggi, sesekali seakan melawan arah desir angin pukul lima petang. Beruntungnya bagiku, walaupun adabanyak orang di lapangan besar ini, tidak ada satu pun yang tampak peduli, apalagi menuding jari ke arah kami sambil berbisik-bisik entahlah.

Punya Melati, si ungu, lebih lihai meliuk dan melawan angin dariku. Atau memang karena dia yang seakan baru habis bermain layangan kemarin, berbeda denganku yang baru menyentuh layangan setelah apa yang kurasa seperti tujuh tahun.

Maksudnya; lihatlah, yang mula-mulanya aku dan Melati hanya terpisah sejengkal kini sudah hampir berjarak satu meter karena aku yang kelimpungan berlari kesana-kemari, susah payah menjaga agar layanganku tidak terlalu buai. Lain dengannya, yang tidak beranjak terlalu jauh dari tempatnya semula sejak layangan kami berhasil berlayar di tengah cakrawala lembayung.

Melihatku, dia hanya tersenyum usil.

“Kelamaan nggak main ya, Myt. Maklum, kok.”

“Diam kamu, Mel.”

Itu, lalu dengkusan kuhembus. Posisi yang tepat kini sudah kutemukan, layangan biruku pun kembali stabil, tidak segoyah tadi.

Namun tak sampai lima menit kemudian, sebuah layangan lain datang tetiba, menukik ke arah kami. Ia besar dan berwarna-warni, hampir-hampir kukira itu betulan naga terbang kalau mataku rabun. Aku berhasil menghindar darinya, tapi tidak dengan Melati. Sadar-sadar kuperhatikan setelah susah payah mempertahankan layanganku, miliknya sudah terbang bebas dibawa angin.

Yang aneh dari itu hanyalah dia hanya berdiri di tempatnya, tidak sedikit pun lari untuk mengejar layangannya sebagaimana lazimnya anak-anak lain bila layangannya putus. Dari arah kepalanya, aku sudah menduga kalau dia tengah memandang layangannya pergi menjauh.

Maka aku bergegas menghampirinya, darah dalam tubuhku seakan menggelegak karena marah. Bukan padanya, tapi tentu saja pada naga terbang jejadian itu.

“Mel, nggak dikejar apa layangannya?” aku bertanya, nada suaraku tanpa sengaja meninggi. “Atau labrak kek itu yang punya layangan naga sialan itu, udah mutusin layangan kamu gitu aja?!”

Dia tidak kunjung menoleh padaku. Kalau kuperhatikan wajahnya dari samping begini, jangankan sedih atau marah, justru wajahnya mengisyaratkan... entah, rasa lega dan gembira.

Kalimat yang dia lontarkan saat dia beralih padaku kembali membuatku mempertanyakan jati dirinya untuk kali kesekian.

“Balik yuk, Myt. Kita singgah makan ayam geprek sesuai janji.”

Kami kembali pulang dengan berbonceng sepeda, seperti ketika kami pergi tadi. Bedanya, yang menyertai kami hanya sebuah layangan biru terang. Perut kami sudah kenyang, masing-masing karena seporsi ayam geprek dan segelas es teh manis.

“Aku masih nggak ngerti deh, Mel,” aku berujar pelan.

Melati selaku yang memboncengku hanya bersenandung.

“Hmm~?”

“Layanganmu itu, lho. Bukan punyaku.” Kuhela napasku. “Kalau kamu kayak gini ke layanganku mah iya, yang ada aku sendiri yang kayak kebakaran jenggot. Ini punyamu, masalahnya.”

“Kan masih ada yang kupinjemin ke kamu~”

“Itu bukannya layangan kesayanganmu?”

Sebelum aku menyadarinya, Melati berhenti mengayuh. Kepalanya seperti menengadah ke arah langit pukul lima empatpuluh lima petang.

“Kesayangan sih emang,” katanya, “tapi kita bisa apa kalau udah putus? Mau dikejar? Yang ada kitanya yang sakit atau kenapa-napa. Dia sih udah nggak peduli, udah bahagia dipeluk angin.”

Untuk beberapa lama, aku menyangka dia sedang menceritakan isi hatinya.

“Sama juga kayak ngejar mantan, Myt. Sekali dia lepas dan udah di pelukan orang lain, kita udah nggak bisa apa-apa. Cuman bisa berdoa yang terbaik buat mereka, sambil kita juga pelan-pelan berubah ke arah yang kita inginkan sendiri.”

“Bentar... gimana?”

“Ya gitu.” Melati kembali mengayuh perlahan sepedanya. “Ngejar mantan itu kayak ngejar layangan putus; karena pada hakikatnya, kita hanya ngejar sesuatu yang sudah rela dalam pelukan yang lain. Alias, kita hanya ngejar sesuatu yang sia-sia.”

Aku tidak tahu apa asam-garam dalam cerita cintanya sampai dia mengutarakan hal seperti ini, namun sepertinya bukan pada tempatku saat ini untuk menanyakannya. Satu hal yang bisa kupastikan hanya satu; kalau pola pikir anak ini tidak sesederhana yang kupikir selama ini.

Yah, pada akhirnya, memang kita takkan bisa menilai sebuah buku dari sampulnya saja, bukan?

“Kamu aneh ya, Mel.”

Kali ini dia menoleh padaku, tersenyum ringan seperti biasanya.

“Hehehe. Kalau nggak aneh bukan Melati namanya.”

Untuk kali pertama, aku begitu menantikan hal aneh apalagi yang akan dia lakukan esok hari, dan berharap agar aku juga diajaknya.

Rabu, 25 November 2020

오랜만이야.

Udah lama, ya. Gitu arti judul pos ini.

Tapi emang bener sih, udah lama sejak terakhir kali gue ngepos. Dua tahun ada. Ketemu fosil tulang ayam goreng pun ada.

Gue nulis ini dalam keadaan nambah status baru. No, bukan status single-nggaknya. Kalau itu sih, gue udah terlanjur ogah ngelepas status gue sebagai seorang jomblo bahagia. Bertahun-tahun nggak pernah ngerasain yang namanya cinta berbalas, sampai akhirnya terlanjur malas mencari cinta itu sendiri.

Sedih banget ya kedengerannya? Nggak sesedih yang dipikir, kok, tenang aja.

Anyways, sejak 9 Agustus lalu, Alhamdulillah, bisa dibilang gue lulus dari pondok gue yang sekarang. Ujian akhirnya online sih, dan gue dapet mumtaz untuk hasilnya. Padahal sesama temen-temen gue yang ikut ujian (yang ada 4 orang dan semuanya sesama anak rantau kayak gue) udah takut-takutan aja sejak seminggu sebelumnya, padahal mah pada akhirnya juga pada mumtaz semuanya.

Sekarang gimana kabar masing-masing anaknya? Dua anak ngajar di pondok lain, dua lagi ke Pare untuk belajar bahasa Arab, dan di sinilah gue, akhirnya dalam proses untuk mengejar impian gue yang kedua; untuk kuliah, demi menjadi seorang desainer grafis. Masih kayak jaman SMA aja impian gue, cuman ya lebih simpel aja.

Seenggaknya gue udah sadar sesuatu sepanjang perjalanan gue beberapa tahun kebelakang ini; kalau nggak semua orang sama laju hidupnya.

Ada yang normal, dengan segala naik-turun standarnya. Ada yang hidupnya kelewat gampang dan lancar jaya tanpa hambatan (atau super-ultra-easy-mode, mengutip kata seorang karakter game yang gue rajin mainin akhir-akhir ini). Ada juga yang struggle terus, sampai dia pun bingung kapan bisa bahagianya. Mungkin, mana tau, ada juga yang kayak gue, seakan nggak kemana-mana padahal jalannya udah jauh banget.

Iya lah, bertahun-tahun gue selama mondok liat temen-temen gue sejak SD sampe SMA lulus sekolah sekian, masuk sekolah sekian, keterima di universitas sekian. Yang gue bergelung aja bertahun-tahun dalam satu tempat yang sama, yang nambah cuma jumlah juz yang dihafal. Tapi tetep, semuanya terbayar sekaligus ketika gue betulan selesai.

Kelar syahadah tanggal 25 April lalu, gue berasa lompat jauh. Jauh banget. Seakan bisa ngebalapin temen-temen gue yang lulus tahun ini. Nggak nyesel gue ngomel-ngomel karena proses syahadah gue yang paling bentar diantara sesama temen sekhatam; ketika yang lainnya setahunan, gue cuman 3 bulan.

Kalau mikir-mikir balik sepanjang tahun ini, gue kadang cuman bisa senyum sendiri. Mikir, emang Allah yang paling tau laju hidup kita sebaiknya kayak gimana.

Nggak perlu liat hidup orang lain, karena kita bukan mereka. Kita ya kita, cerita yang kita tulis juga lain dari mereka, dan sebaiknya punya kita harus ditulis sebaik dan seunik mungkin. Nggak usah peduli soal laju-nggaknya, karena terlalu cepat pun nggak kerasa serunya. Ambil setiap waktu yang kita butuhin, semampunya, sambil-sambil lihat dan nikmati dinamika sekeliling kita.

Karena seenggaknya, kita jalan, walaupun sedikit.

- Jian, baru 9 hari sejak 22 tahun, ...entah kapan kelar sakit belakangnya. ;w;)

Sabtu, 01 Desember 2018

tentang para pembenci dan lawannya

Gue kadang sesekali nemu orang-orang kayak gini kalo lagi ngapung-ngapung di tengah semesta Internet; orang-orang yang nyatain banget kebencian mereka sama satu kelompok atau etnis yang tertentu. Biasanya sih untuk beberapa grup terkenal dalam perihal keboibenan, dan pernah sekali gue nemu kontrasnya untuk suatu grup lokal tertentu; segitunya sampai mereka dianggap sebagai suatu kewujudan Tuhan. Apapun itu, dari dua jenis keberadaan segelintir yang ini, warganet lain semua bakal menilai mereka "yang sekadar cuman nyari sensasi". Drama queens and kings, as I would call them. Worshippers or haters.

Itu, seenggaknya, 7 tahun yang lalu, sampai sekolah gue di Malaysia ngubah persepsi gue tentang arti para pembenci yang sebenarnya.

Anak-anak di sekolah--bukan, madrasah gue sekarang punya pandangan lain tentang membenci dan mencintai. Terutamanya artis-artis. Satu aja sih prinsip mereka sebenarnya; that you don't have to be loud to hate or to love something. Kalaupun mau ditunjukin ya sesama komunitas mereka aja gitu.

Waktu itu pernah suatu malam seorang kakak ini nyeramahin kita dikit-dikit.

"Kalian tau nggak bencana yang di Palu itu," katanya kira-kira, "itu didahului dari mereka buat kegiatan maksiat di sana."

Dan mulailah kakak itu cerita tentang gimana sebelum gempa ada diselenggarakan konser LGBT. Nggak tau ini yang terjadi atau ritual pemujaan dewa laut. Nggak tau, tapi ada perayaan yang emang terjadi sebelum gempa itu.

Kebetulan, dalam waktu dekat suatu grup K-pop yang lagi viral mau konser di Malaysia. Shah Alam, persisnya. Entahlah di Bukit Jalil apa nggak, tapi kakak ini nyinggung juga soal konser padaan.

"Emang kalian mau kalau sampai satu Malaysia kena bala gegara konser mereka?" kata kakak itu 'nyemangatin' mereka. "Makanya kalian banyakin do'a dong biar mereka nggak jadi konser di sini!"

Yang gue kaget adalah; respon sekeliling gue kompak banget; aamiiin!

Gue di tengah-tengah kerumunan, diem aja, gatau mau mihak yang mana. Tapi abis itu gue ketawa miris, diem-diem, sendirian.

"Wah. Fans pada kecewa nih entar."

Di satu sisi gue nggak bisa nggak setuju sama mereka. On the religious side, at least. Udah banyak cerita-cerita gue denger tentang satu wilayah yang kena bencana karena secuil maksiat (kalau seandainya kejadian di Palu nggak cukup buat jadi bukti), jadi takut juga kalau mereka betulan datang dan hal itu bener-bener terjadi. Di sisi yang lain, pasti fans-fans pada kecewa. Apalagi kalau mereka sampai tahu ini efek (baik) do'a anak-anak santri.

Tapi buat gue, dari sini gue nemuin hakikat hatersyang sebenernya. Mereka membenci artis dengan alasan yang masuk akal; emang mereka bisa nolongin kalian di akhirat entar? Apa untungnya suka sama orang yang nggak tahu eksistensi kalian?

Gue, dari lubuk hati yang terdalam, masih seorang fangirl yang nempel sama 8 grup K-pop sekaligus. And I'm fully aware of these consequences. Makanya gue bikin komitmen dalam hati; untuk nggak terlalu terobsesi. Harus pada tempatnya kalau mau ngebobrok. Nggak boleh jadiin mereka idola hidup, karena selayaknya panutan hidup umat Islam cuman Nabi Muhammad SAW, not the others.

Tapi kebanyakan fangirl di lingkungan gue… susah nyari yang kayak gitu. Rata-ratanya lebih berpengalaman, nonton jauh lebih banyak dari gue. Ada sebagian juga yang pernah berpengalaman nonton konser, sampai nangis galau karena mereka nggak bisa dateng. Ada yang sampai bisa ngafalin huruf hangeul yang banyak, susah dan riweuh di luar kepala, sampai gampang banget kalo mau ngafalin lagu padaan. Bahkan ada yang sampai jadiin kode-kodean; nulis bahasa Indonesia pakai huruf hangeul biar nggak dimengerti orang. Lah gue? Mau ngeja Hyungwon aja setengah hidup.

Gue tau; gue selalu nahan diri kok ngeliat merchandise K-pop dijual di Internet. Kayak tadi; mengingat kakak-kakak(?) DAY6 mau konser di Jakarta minggu depan, dan udah ada fanbase yang jualan merchandise buat konser padaan di Twitter.

Hanya Allah yang tau gimana perasaan gue tadi. Minggu depan konser, eh besok guenya balik sekolah di Malaysia. And not to mention that they're my ultimate group of the moment.

Jadi pengen ngetawain diri sendiri. Dulu gue selalu bilang kalau gue gamau temenan sama selain anak-anak perfandoman, tapi sekarang gue lebih deket sama anak-anak yang nggak demen apapun. Ironis, tapi di saat yang sama gue juga nyaman gitu.

Honestly speaking, gue juga takut kalo temenan sama anak-anak perfandoman di lingkungan gue sekarang. Takut mereka move-on satu-satu, ninggalin gue sendirian. Gue udah beberapa kali pengalaman kayak gini, hasil dari pencerahan (atau pencucian otak kalau menurut sisi jahiliah gue) kakak-kakak dan guru-guru di sana.

Tinggal ya ada juga sebagian orang yang begitu udah nggak suka K-pop lagi tapi tetep suka artis belahan dunia lain. Lah. Maksudnya; ngapain juga, gitu? Mending suka sekalian semuanya aja atau nggak suka sama sekali. Beneran deh. Seakan perihal keboibenan di kalangan anak-anak santri dijadiin kambing hitam.

Don't get me wrong on this. Gue anak santri, dan ya, gue juga seorang fangirl. Gue nggak mau berat sebelah, benci sebelah ke salah satu pihak. Ini emang dua sisi yang saling bertolak belakang, jadi gue ngerasain banget gimana susahnya bisa seimbangin duaduanya sekaligus.

Kunci utamanya satu sih; fokus.

Gue pernah ngejalanin satu eksperimen diem-diem, untuk ngetes daya fokus gue kalo gue tetiba kepikiran jauh-jauh sambil muroja'ah. Setengah jam kepikiran perihal keboibenan, setengah jam abis itu kepikiran animanga.

Karena gue udah biasa latihan fokus untuk yang pertama (dengan cara nepis jauh-jauh sambil istighfar), jadi pas kepikiran yang kedua gue lebih susah untuk konsentrasi balik.

Nggak selalu artis kok yang bikin hilang fokus; itu kesimpulan gue. Bahkan terkadang hal-hal sepele di keseharian kita juga bisa bikin hilang fokus.

So if someone who shares the same conditions as me happens to pass by this and actually make it to this line, gue mau ngasih satu tips: banyakin fokus, shalat Taubat dan istighfar. Tahu tempat kalau mau fangirling. Kalau mau beneran taubat sampai move on juga nggak dilarang kok--siapa gue mau ngelarang orang-orang untuk berhenti suka sesuatu? Tapi kalau masih mau bertahan… emang sih agak susah. Balik aja ke tiga poin pertama tadi.

Satu lagi; kalau mau juga jadi haters, jadilah hatersyang rasional. Pembenci yang beralasan, nggak kayak kebanyakan orang di Internet yang benci orang tanpa alasan yang mendasar. Dan sebaiknya don't voice out your hate to public. Karena terkadang pembenci yang unjuk diri adalah penggemar yang terselubung.

- Jian, 20 tahun, capek.

Sabtu, 24 November 2018

Curcol: Shiryoku Kensa (2018 ver.)

Atau lebih tepatnya; sebuah sesi curcol yang direvisi.

Soalnya pandangan gue terhadap kacamata udah sedikit banyak berubah dibanding 5 tahun yang lalu. Iya, gue masih ngayal apa jadinya kalo gue pake kacamata. Masih iseng nyoba-nyobain kacamata orang, tanpa ngerasain hakikat sebenernya ngeliat dunia dari mata mereka.

Dan sekali gue nyadar, gue mikir balik untuk sesaat.

Gue masih di pondok gue waktu itu, udah mau angkat takbir shalat Ashar. Apa Zhuhur gitu, lupa gue. Yang penting siang. Gue berdiri sebelah temen gue yang, kebetulan, kacamataan. Dia minta gue pegangin bentar kacamatanya. Mau betulin mukena, ceritanya.

Mengingat mukena gue juga nggak ada tali yang biasa ngitarin kepala itu, iseng-isenglah gue pake itu kacamata.

Cuman yha, dunia di balik kacamata itu jadi mengecil. Gue ngeliat seolah rak buku di depan gue jadi jauh banget. Kepala gue pun nyut-nyutan seketika.

"Gilak," kata gue pas dia ngambil kacamatanya balik. "Minus berapa nih?"

Tanpa noleh, dia nyahut.

"Lima."

Apa yang dia lihat selama kacamatanya dilepas, kalau gitu? Seburem apa dunianya tanpa kacamata sampai gue bisa nyut-nyut segitunya kalo mau ngerasain juga?

5 tahun yang lalu, gue agak gimana gitu ngeliat keluarga gue, setiap seorang semua kacamataan. Gue doang yang nggak. Kalaupun ada, itupun plano. Anti-radiasi. Cuman dipake depan layar.

Iya sih, sekarang gue masih sering nyoba-nyobain kacamata tiap kali lewat stan kacamata roda lima di mall-mall, soalnya gimanapun juga gue pengen kacamata plano yang bikin gue keliatan dewasa dikit kalo dipake. Bulet mah nggak cocok. Entar gue udah culun tambah culun.

Bingung aja gitu sama orang-orang yang cocok sama kacamata bulet. X""D

Intinya mah apa? To appreciate what you have before it disappears gradually. Gue belom tes mata lagi, berharap besok bisa sambil sekalian jalan. Takut minus gue nambah, padahal dunia di penglihatan gue nggak berubah banyak dari 5 tahun lalu. Takut, soalnya belakangan gue suka mantengin layar gelap-gelap.

Tapi sambil itu, gue tetep bersyukur karena mata gue udah dan masih kayak gini. Masih bisa ngebaca tulisan yang kecilnya keterlaluan segedeng, masih bisa ngeliat seseorang dan ngebaca plang dari kejauhan, masih nggak ada apapun yang keliatan burem.

Oh, dan satu lagi. Masih menunggu translate-an manga Shiryoku Kensa yang entah dari kapan admin-nya hiatus. Bahkan stiker Line pun nggak bisa mengobati kerinduan gue sama yang ini.

- Jian, udah kepala dua dan masih berusaha untuk nyangkal.

Rabu, 21 Juni 2017

tentang hidup

{ untuk hari ke-21 #NulisRandom2017. belom telat kan gue?  }

.

.

.

Coba bayangin deh.

Kalau seandainya, di suatu hari di kelasmu, guru bahasamu ngasih tugasan ke satu kelas.

Sebenarnya sih tugasnya terdengar simpel.

"Buatlah satu buku cerita serapih dan secantik mungkin," kata gurumu. "Kumpulkan minggu depan."

Udah. Itu aja. Nggak ngasih instruksi lebih jauh.

Tapi pasti hampir semuanya berlomba-lomba untuk buat secantik mungkin dalam pandangan mereka, kan? Kamu pun begitu juga.

Semua terserah kita. Jalan cerita kita, terserah mau banyak tokoh pendukung atau cuman kamu yang ada dalam cerita itu. Terserah mau cerita yang genre-nya horror, romance, angst atau slice of life. Terserah mau cantik-cantik sampulnya sampe dihias-hias atau cuman digambar pake pensil hitam di atas kertas putih. Terserah mau pake gambar apa nggak, mau gambar yang niat banget atau cuman asal doodle stickman, mau diwarnain atau dibiarin hitam-putih. Terserah mau nulis ceritanya pakai pulpen berwarna atau pensil biasa.

Semua terserah kita. Tergantung kita maunya kayak gimana.

Tapi nanti pada akhirnya, di tanggal deadline, gurulah yang akan mutusin, yang akan nilai. Yang rapi, cantik dan bagus pasti dikasih nilai lebih tinggi ketimbang yang seadanya.

Kayak gitu jugalah hidup kita. Semua terserah kita.

Terserah mau ngabisin hidup dengan atau tanpa beban pikiran. Terserah mau banyakin amal baik atau amal buruk. Terserah mau keukeuh sendiri, nggak butuh bantuan dan nasihat orang lain, nggak mau ikut aturan dan saranan, atau tunduk pada apa yang mereka bilang. Terserah mau jadi egois atau toleran. Terserah mau punya sifat kayak apa. Ramah kek, pemarah kek, jutek kek. Terserah mau punya pendirian sendiri atau ikut-ikutan orang lain doang.

Lagi, semua terserah kita. Semua tergantung kesadaran kita tentang apa yang kita inginkan sebenarnya.

Tapi, buku cerita yang ini nggak ada deadline. Kapan-kapan aja Allah SWT minta kita untuk ngumpulin tugas kita. Mungkin hari ini. Mungkin besok. Mungkin minggu depan. Atau mungkin… bertahun-tahun lamanya? Kita nggak pernah, dan nggak akan pernah tau kapan saatnya kita harus ngumpulin tugas kita.

Tapi nanti, di alam setelah alam dunia, baru semuanya akan Dia nilai. Kalau amal kita lebih banyak yang baik, insya'Allah dari kubur juga bakal enak. Lah kalo banyak amal buruk?

Tapi lagi-lagi, semua terserah kita. Ini memang cerita hidup kita, dan kitalah sutradaranya, dan paling nggak kita sudah tau kalau Allah SWT cukup kasih satu arahan: untuk beribadah, beriman padaNya dan tidak syirik pada sesuatupun selainNya. Tinggal kita mau ikut arahan itu apa nggak.

Tapi sebenernya, arahan simpel itulah yang nentuin kita di akhirat nanti. Kehidupan yang kekal nanti. Mau jadi apa kita nanti?  Mau enak-enakan di surga atau harus ngerasain api neraka dulu? Mau dapet ridha Allah dan syafaat Nabi SAW atau murkaNya?

Semua terserah kita. Semua dimulai dari sekarang. Ngerasa udah salah jalan selama ini? Masih belum telat, kok. Allah SWT nggak akan bosan nunggu seseorang yang ingin kembali padaNya, asalkan roh kamu belom nyangkut di tenggorokan. Nggak ada kata telat untuk berubah…

…itupun kalau kamu mau berubah.

Minggu, 16 Oktober 2016

berdebu.

Iya. Emang sengaja judulnya begindang.

Lagian udah berapa lama blog ini nggak gue isi....? Kalau mau lebay dikit, gue yakin tadi pas nelusur jauh ke dalem blog ini dan blog-blog lama temen gue, gue yakin gue nemu secercah kenangan dan kerangka pithecanthropus sepanjang jalan.

Ehem.

Gue kebanyakan curcol di notepad selama ini, jadi ini terabaikan banget. Lagian nggak baik kalo sampe jejeritan absurd gue sampe diketahui dunia(?).

Oke but anyways.......

......gue udah bertekad; seberdebu apapun ini jadinya blog, nggak bakalan gue hapus. Gitu juga pos-pos lama gue dari jaman baheula. 'Cause you know what, sometimes it feels like looking at your own (digital) time capsule. Gue serasa bisa balik ke diri gue di umur 11-12 tahun yang masih lugu dan polosnya minta ampun, yang belum kenal apa itu perfandoman dan rasa suka pada sosok yang lingkup dan (terkadang) dimensinya nggak realis.

Dulu, 5 tahun yang lalu, gue asal nulis aja sekadar buat bikin blog ini banyak isi. Tapi kesininya gue nyadar satu hal; tulisan adalah kenangan yang tidak bergerak.

Ya, nggak bergerak di mata kita. Seperti halnya foto. Makanya gue seneng banget kalo ngeliat kombinasi tulisan dan foto semacam yang sering ada di scrapbook-scrapbook gitu, karena terkadang di balik sebuah foto ada hal-hal yang nggak bisa tertangkap lensa kamera saat itu.

Makanya tulisan itu ada; untuk melengkapi suatu momen yang nggak bisa diceritakan selembar foto.

Untuk apapun, bukan cuman kenangan. Tulisan selalu menjadi pelengkap.

Dan maka dari itu gue bakal tetep nulis. Di manapun. Dengan beberapa nama. Mungkin bakal ngupdate blog ini juga, sekalipun jarang banget.

Karena pada akhirnya, tulisan-tulisan kita menceritakan siapa kita. Fisiknya mungkin akan berdebu, tapi kenangan yang tersimpan di dalamnya nggak akan berdebu.

- Jian, H-30 menuju 18 tahun, masih in denial kalo udah punya KTP.

Sabtu, 18 Oktober 2014

in which she wants to make a tribute for them all

H-1 mondok. Hiyey. Padahal harusnya sih H-2. Huf.

Dan ini kayaknya—aaaa gue gagal paham level hore sama tumpukan jaring laba-laba di sana-sini. D:

Sekarang gue bakal cerita dikit tentang temen-temen RL gue. Semuanya, dalam satu dan lain hal, udah ngebantuin gue untuk jadi gue yang sekarang. Yang dari SD mah gausah ditanya lagi, walaupun mereka andilnya lumayan besar juga, masalahnya cuman—gue gatau kabar mereka lagi. D:

Pertama, di awal kelas 7, ada Afra sama Shazqia! Gue sekelas sama mereka pas kelas 7, dan yaaa walaupun keliatannya kita bertiga deket bareng, entah kenapa ya.... gue malah ngerasanya kayak mereka doang yang nempel banget. Ya secara gue dulu kan ya yaaaaaa gitulaaaaaah, tipikal yang nempel-nempel jebejebe despo sama orang-orang. Maklum baru lulus SD. ;u;

Dan Shazqia, di satu hari di kelas 7, di saat gue sama dia ditaroh bareng di ruang BK karena suatu insiden tertentu (yang harusnya cuman ngelibatin gue doang), mulai nulis Whip It!, satu dari sekian orific favorit gue. Duh ya ampun kangen Sherline tetiba. ;;w;;

(Afra mah sekarang hijaber gaul. Uhuhuhu.)

Di satu hari di kelas 7 juga, gue ketemu dengan orang-orang kayak Dhiya, Anin, Cynthia juga. Kalo ketemu Cynthia pertama kapan yaaaaaa, tapi kayaknya jaman-jaman gue udah diship sama Chandra sama satu angkatan. Gue bilang gini, "yaaa kan cuman temen!" dan dia tiba-tiba bilang "TTM ya? Atau TTD?"

Di mana TTD adalah Teman Tapi Doyo. Dengan nada khas di doyo-nya.

Kalo Anin nah ini. Gue pertama ketemu dia di ruang Matematika-nya Pak Cep, menjelang shalat Zhuhur. Dia nyari mukenanya kalo nggak salah....? Dan first impression gue ke dia adalah "....uwaaaa cina? Uwaaa kok lucu?"

(Ya Nin jadi tolong sumimasenkan gue.)

Kalo Dhiya....... gue semacam stalkernya. Maklum lah ya kan gambarnya ndewo kan ya. ; w ; Pernah sekali pas sebelum reuni TO dia baru cerita sama gue kalo pas kelas 7 dia sebenernya berusaha untuk ngindarin gue karena gue.... nyeremin. xD Tapi ya mau gimana lagi pas semester dua kelas 7 sampe awal kelas 9 emang gue nempel sama dia melulu tiap ekskul. Sekarang sih menurutnya gue udah nggak nyeremin lagi. xDD

Oh, gue mulai belajar manga gegara Dhiya dan gerombolan mininya, betewe. Orang-orang semacam Dinda, Runa, Ilana, orang-orang yang ndewo seni. ; v ;

Di kelas 8, gue-Cyn-Anin-Shaz mulai nemplok dengan ajaib. Semua hal dialami dengan ajaib, semua mulai keliatan indahnya ((JIAH))—Cyn dan chant-chant(?) lawak plus kepinterannya, Anin dan ngakak bahagianya, Shaz dan Whip It!-nya. Indani sering nyelip cantik, gitu juga Tissa dan Freya. ;u;

Yaaaa orang mereka berenam kok yang merintis draf terawal CALS (CYNTHIA PERGI KE PASAR DUNG DUNG TEK-TEK~). Sekarang mah yang inget dan kangen tinggal gue dan Anin, tapi lebih intens di gue karena yaaaaaaa our absurd times. Aaaah kangen pair Cywidh! OTP terindah selama setahun~ _(:"3

(Dimana sang seme sekarang masih sama Syav kayaknya, dan sang uke kena dilema. :<)

Betewe di CALS spesial setahun, gue ikut nulis loh! Habibah sekalian nimbrung dan tiba-tiba gue minder sesaat. :D

Di kelas 8 juga, gue mulai rajin diledek cowok. Biasanya antara Aban (sang seme di Cywidh hfff), Afif sang rohis osis Dasa, Inan (sang penyelamat kelas 8C dari tomcat jejadian yang pernah nyaris gue jeritin WO AI NII~), Dito si tinggi-tinggi megane, Nobi atau sang kode terselubung, atau juga Ival alias Tel. Sumpil gue gatau asal-usul kenapa dia bisa dipanggil Tel, tapi yaaaaa emang telor mentah udah jadi telor ceplok kok. ;w;

Di saat yang sama, kenapa gue malah dokis nggak karuan sama Fakhri. ;;w;; Eh bener, padahal gue inget tuh pas hari terakhir studex anak-anak SMP 68 (yang gue gagal nyadar banget ada Wina astagaaaa), gue diciein abis-abisan sama dia pas Chandra maju ke depan buat ngasih kesan-pesan. Pas puncak ACEX 2012 juga, dia tiba-tiba jeritin gue "Jii ini urusin calon suami lo Jii!" Iyain aja deh...........

Kelas 9D itu kelas kesayangan banget uhuhuhuh! ;////////; Bisa dibilang satu-satunya kelas yang gue bisa aja get along well sama semuanya, apalagi yang semacam Syav, Inggi, Habibah. Terus jengjeng muncullah juga Faiz dan Ghani, yang pas kelas 8 juga rajin cieciein gue sama Chandra. 8""D

Anin nyasar jauh di 9A. Cyn-Afra-Shaz masih nempel di 9E, dan gue sering mampirin mereka sebelum jam-jam paket. Di saat-saat ini jugalah gue mulai kenal baik Lia, yang ngakunya gabisa gambar padahal potensinya bagus banget uhuhuh, terus Nadis sang anak aksel yang hobi banget gue curcolin soal nasib ngenes  Hibiya uhuhuhuhuh, terus juga makin deket dengan kouhai-kouhai semacam Audrey, Mine, Kay, Kanti, Naifa, Karen juga~ aaah. ;v;

Yap, jaman-jamannya dimana gue mulai suka sama Ghani—ups. Ehtapi beneran tah. Gue mulai move on dari Chandra karena suatu insiden penolakan (lel) di mendekati akhir kelas 8, dan yaa, gue ngaku akan itu di TO UAN 2013. Di depan satu angkatan 10 sekaligus.

Putus urat malu? Gapapa. Yang penting unek-unek tersampaikan dan "selamat Ji udah gajadi jomblo lagi!" /o/

Dan recently gue mulai deket lagi sama Cyn-Anin karena satu dan banyak hal. Apalagi Anin, yang udah berbaik hati nyambet gue dengan Corpse Party, Minecraft, youtuber-youtuber awesome dan Sherlock. Dimana gue berbaik hati bales nyambet dia dengan Kagepro, Free!, dan Soraru sang utaite tjakep.

Oke ini mental kemana-mana lagi. Eh nggak ya.

Pokoknya gitu deh, kelas 9 bisa dibilang tahun favorit gue. Ada momen-momen gue jaman-jaman SMP yang udah gue tulis dalam blog, dan yah, kalo bisa gue bilang, gue pengen balik ke masa-masa itu.

Naik ke kelas 10, gue misah dengan entuh mereka bertujuh (iya Indani-Tissa-Freya gue itung juga kok huks). Tahun baru, sekolah baru, temen yang... well, nggak sepenuhnya baru. Masih ada Dhiya, Lia dan Nadis yang masih sama-sama gue.

Cuman bedanya kali ini ada Wina. Sang fangirl Konoha dan Kuroko level hore. Sampe gue bingung mau nyematin marganya Konoha ato Kuroko ke namanya. 8""D Gambarnya juga keren uhuuuuhuhuhu.

Terus juga ada Anggi. Dia.... err, gimana ya, ya intinya dia juga senasib sama gue, sama-sama berkecimpung dalam fandom minor. Baiik banget, style gambarnya juga uniiik banget, she's just so yasashii and all.

Intan juga. Heeihei, gue mulai deket sama dia pas kapan yaaa, apa pas Pilar? Mungil dan energetik, hihehehey!

Terus ada Mira. Dia yang paling unik dari semua yang pernah gue temui. Well, dia sekilas keliatan normal—iya dia berhijab, iya dia kembarannya gue hehehehehe, iya puisinya bagus banget uhuh, iya aturan di keluarganya nggak ketat, she even had a guyfie. Tapi minatnya, oh minatnya. Jaraang banget ada yang tau banyak soal seluk-beluk zionis, konflik Gaza dan tetek-bengeknya, semua tentak Irak-Iran-Afganistan, sejarah Indonesia yang lengkap banget uhuhuh. Sampe kadang gue harus nyari distraksi yang agak normalan dikit buat dia. 8"""""D

Dan ada Anis juga. Dia demen yang unyu-unyu, bahkan buku tulisnya juga ada gambar kucing yang minta diunyel pake Bismillah banget. Dia yang sering nasihatin gue pas gue gabisa ikut ke Jepang, "kalo sekarang belum bisa, mungkin suatu saat nanti bakal bisa, 'kan?"

(Dan soal mereka yang ke Jepang, gue bahagia banget walaupun cuman bisa dapet satu clear file Shintarou. Yaaa sisa uangnya bisa buat pahala kan, waktu itu gue nyadar? ;w;)

Cowok-cowoknya ya.... Kinan-Mirshaan-Raprak gaberubah banyak sih. Yaaaa mungkin Raprak udah moe-an dikit? //WOI

Kinan masih jago realis, Mirshaan udah pintar bikin muka lawaq......dan hemhem demi apa banget mereka dipair??

Ada beberapa yang baru jejebean di antara kita, semisal Syafiq, Iffan, Dimpeks, Danet (yastaga yang ini gue ganyangka) dan Tory. Semuanya yasashii hito dengan cara mereka-mereka sendiri.

Syafiq dan Iffan, udah pernah jadi sasaran hati Mira. Iyasih dua-duanya baik, iyasih dua-duanya seru, iyasih dua-duanya megane(???). Sama-sama berpotensi bisa diajak menggila, dan Iffan pernah bilang kalo dia "nggak akan sebaik keliatannya".

Dimpeks sih shy-shy-cat level hore. Mirip Slaine, tapi malu-malunya dinaikin dikiiiiiiiiit lagi. Jarang ngomong, sering mojok, tapi kadang sering gue nimbrungin.

Tory sih gamer level hore. Cinta Madoka pake banget, dan pernah sekali ngerebut-rebutin hape gue cuman gegara di hape gue ada app jam yang ada model Live2D-nya Madoka. Hapenya gak bisa install, itu masalahnya. Mirshaan juga demen deng, dan kayaknya waktu itu dia minta gue kirimin file .apk-nya ke dia? Eh tapi yaudahlah. 

Pokoknya intinya gue sama Tory pertama kenal gegara clear file Madomagi gue hasil jarahan di AFAID 2013. Walaupun awal-awal kadang suka ribut, tapi aslinya dia baik banget. Gue bisa aja full menggila sama dia. Kata Mira, kalo gue sama Tory, seakan gue jadi diri gue sendiri... tapi entahlah? Kita jadi tetiba deket, akrab, indikasi modus?? Yaaah coba tanyakan Mira dan roleplay-nya sebagai nenek-nenek di lari pagi terakhir kelas 10—dimana gue sama Tory diklaim jadi cucunya yang paling cantik dan ganteng. Jadilah gue sama Tory berstatus sodara-sodaraan, dengan gue lebih tua duabelas hari.

(Plis, jaman-jaman dia diteriakin JENGGEEER itu.....)

Danet paling normal sih kayaknya. Entahlah eeh.

Kalo senpainya maaahahahah~ gue bingung level hore, karena gue jarang deket sama semuanya sepaket. Tapi yang paling akrab sama gue itu cuman Kak Angga, Kak Ocha, Kak Kirana, Kak Saras, sama Kak Marisa.

Kan udah gue bilang kalo Kak Angga punya game Corpse Party yang biasa di PSP-nya. Daan dia kebiasaan manggil Yoshiki jadi Kishinuma?? Yang paling gue kangenin dari dia sih habit lawaknya untuk garuk-garuk tembok atau lemari atau lantai tiap despo kumat. Daan jangan lupa juga kalo dia sering banget minta sama gue untuk tetap dalam jalan yang benar (sepaketan bareng sama Dhiya sama Wina juga lelelel). X"D

Kak Ocha, sementara itu, sayang banget sama Mitobe sepaketan seantero Seirin. Kak kenapa kita sehati. Mungkinkah kita jodoh?  __(:'3

Kalo Kak Kirana gampang ketauan dari jilbabnya yang paaanjang banget kayak gue. :D Dia demen Shuuen no Shiori juga, dan cinta banget sama C-ta. Katanya A-ya serem, dan emang iya kok dia serem gue nggak ngelak. .w.)

Kak Saras itu fujo level hore. Ngeship AkaKuro pake banget. Pernah sekali hampir ngeracunin gue untuk jadi fujo juga (karena waktu itu gue sempet punya soft spot buat AoKise), tapi akhirnya semua OTP belok yang gue hampiri dengan senang hati akan gue jadiin brotp.

Nah kalo Kak Marisa itu bisa dibilang senpai-jaman-SD-yang-pertama-kenal-dan-udah-lama-nggak-ketemu-asdf. Dulu pernah ikut storytelling bareng gue pas gue masih kelas 2 SD, dan sekarang dia hobi banget nulis. Laaaaah kita samaan di sini, Kak. :'D

Dan hampiiir aja gue lupain senpai-senpai angkatan 11. Nggak terlalu ngomong banyak sama mereka semua, tapi gue paling nempel sama Aya-senpai. Sekarang udah kuliah sih ya heeeeee I even so know your feels of baru kuliah, senpai?? ;w; Dia senpai pertama yang bisa gue ajak gelindingan soal utaite secara gue demennya baru awal 2013 lelelel tolong sumimasenkan gue, dan demenan kita kenapa sama-sama ada Kashitarou sama Mafumafu ya...........

Eeeeh but anyways! Hobi gue sama Aya-senpai belakangan ini yaa fangirling utaite mulu, dan inget baik-baik kalo gue udah diship Aya-senpai sama Soraru. Di mana Aya-senpai nggak demen dia karena ada dendam terselubung, tapi eeeeh gapapalah tiap orang kan seleranya beda-beda. Yang penting gue udah ngeship Aya-senpai sama utaite-utaite favoritnya deh eheeehehe. =w=)b

Menuju ke temen-temen sekelas, sebenernya semuanya baik-baik kok, ada sih yang ngeselin kayak Gio, tapi yaaa generally semuanya baik.

Kelas 10, gue jarang bertingkah banyak (lol), tapi biasanya gue paling sering get along antara sama Riana ato Echa.

Echa udah mulai ngeship gue sama Chandra dari kelas 7, daaan terbukti dia manggil gue pake nama Chandra pas awal-awal. Sekarang sih ehehehehe, we're more than just acquaintances.

Riana, sementara itu, mendekati sempurna. Akademis oke, nyanyinya bagus, bisa banget memimpin. Kita sering ngobrol tentang banyak hal, dan dia sering bilang kalo gambar gue itu bagus juga dan gue.... berbakat jadi penulis? ///q/// Tapi juga dia pernah bilang kalo gue sebaiknya harus bisa lebih ngontrol diri, jangan terlalu kelepasan lebaynya. Challenge accepted, bruh! /o/

Tahun lalu juga gue juga dokis dengan sang ketua kelas gue, alias Iman. Kepanjangan dari Imanda, dan sekarang gue bisa gampang salkus karena itu juga nama asli Hika-nee. 8""D Gue bilang ke Hika-nee kalo sang ketua kelas ini cakep pinter berwibawa pula—kayak Slaine. Tinggal rambutnya doang mamen. X"D

(terus masa gue punya hedkenon kalo gue ketemu mereka bertiga pas udah kuliah nanti hfff)

Terus juga aaaaah gue ngelupain kouhai-kouhai tercinta yang masih nyangkut di SMP! Berturut-turut, aaaah tolong gue lupa nama-nama mereka uhuhuhuhuh! ;///////////; Ada Reta, Jo (yang ternyata adalah kouhai gue dari jaman SD hfff), Sarah (sang mirip-bule fangirl Momo dan Suzumu), ada yang berjilbab biru tua dan sering nempel sama Reta, ada juga fangirlnya Aban (yah yang gue inget cuman dia orang Bali dan namanya panjang banget dan dia gemuk banget), ada juga hijaber yang cinta sama Rin Matsuoka? Entahlah deh.

Reta lawak pake banget, heboh pake banget dan ngeship ShinAya juga pake banget. Terakhir jarang ketemu lagi aaaaa, dia juga sibuk latihan buat misbud sekolahnya ke.... Spanyol? Entah kenapa gue keinget Mugi, but yeehehe. Selalu bareng sama Jo, yang gara-gara dia gue tiap ketemu mereka gue bakal teriak "Salam Perwira Shuuya!" Gue lupa apa si Jo ngebias sama Kano ya............

Yeah, but well. Mereka, juga guru-guru SMP-SMA Labsky, dan semua yang nggak kesebut gue, semuanya, semuanya, udah berhasil bikin gue jadi kayak sekarang. Kangen? Pasti. Pake banget.

Jadi jika ada yang terpanggil dan paas banget lagi baca blog gue, gue ucapkan terima kasih banget. Terima kasih, gue kangen, dan insya'Allah nanti ketemu lagi yuk.

- Jian, H-28 menuju 16 tahun, jiwa nostalgia tetiba kumat. ; v ;)//

Jumat, 15 Agustus 2014

kagepro and how it changed my life.

Bukan nggak ada tujuan gue nulis pos ini. Somehow I felt like it, seriously. Pengen jadiin ini sebagai tribute buat proyek seri lagu yang udah ngubah hidup gue banget sejak akhir 2012. Muahehehe, sasuga Mbah Jin, Abang Shidu, Eneng Wannyanpuu, dan entah abang atau eneng Satou Mahiro! owo)//

Telat, iya. Awal mulainya 2011 sih. Tapi yang pertama kali nyeret gue ke project ini yaaa Kagerou Days. Dari yang awalnya gue berspekulasi kalo itu semacam lagu cinta melintasi waktu dan mimpi yang bittersweet (jiah) karena cowoknya mati keren kesambet truk demi nyelamatin teman ceweknya, sampe gue yang setengah kagok karena baru tau mereka kejebak loop, bukannya mimpi dalam mimpi.

Terus abis itu gue coba denger-dengerin yang kayak Kisaragi Attention (yang entah kenapa jadi lagu favorit gue), Souzou (ato Kuusou?) Forest, Headphone Actor, yap. Kalo boleh jujur,yang pertamaa banget bikin gue kepo "ini beneran ada serinya ya?" itu Konoha no Sekai Jijou. Gegaranya gue pas nonton MV-nya yang kayak "ASTAGA ITU KAN BOCAH-BOCAH DI KAGEROU DAYS. EEEEH UDAH GEDEAN DIKIT MEREKA. °□°"

(Duh Hiyori cepet banget ganti rambut. //ngueng)

Terus juga sama Children Record. Tolong itu kenapa semuanya muncul disitu? Yang aidoru lah, yang bocah berpanah itu lah, yang HASTAGA ITU YANG PAKE JERSEY MERAH SAMA BAJU IJO GANTENG HUE. TERUS ITU PULA SI MOE ANAK HUTAN AAAAAAA(ry

Dan dari situlah gue kepo parah sama yang namanya Kagerou Project. Itu juga gue masih ambigu itu nama asli proyeknya apa bukan. Resmi ngikutinnya kapan? Pas ulang tahunnya Hibiya (ato si bocah gantengnya Kagerou Days), 4 November 2012.

Emang sih, dari sini gue cuman sebatas despo nyari-nyari database Kagepro yang pake bahasa Indonesia, dan juga udah mulai jatuh cinta sama namanya Shintarou. Juga cuman yang sebatas tau kalo "oh, entar ada lagu Yobanashi Decieve sama Yuukei Yesterday rilis entar. Entar kapan?"

Disini gue struggle banget, secara yang demen Kagepro di sekolah gue itu dikiiit banget. Cuman 2, dan duaduanya temen se-ekskul. Bedanya, yang satu selalu gue ajak ngomong dengan topik yang sama tiap ketemu--"Hibiya kasian ya, udah ganteng, dewasa, kuat, eh taunya jomblo." Dan yang satunya..... err, gue gedek pas ngeliat dudelan Ene-nya.

("Dhi kata lo gimana?" "Itu udah bagus kok, cuman blablablablabla~ --gue tiap kali minta tutorial sama dia.)

Di penghujung kelas 9, penantian gue pun terbayar. Dimulai dari rilisnya Yobanashi Decieve  (yang bikin gue bener-bener kayak "Ih Jin kok makin keren sih. Shidu juga deh." dan mulai kepo kenapa Kano dimirip-miripin sama Izaya), terus ganyampe beberapa hari kemudian, Lost Time Memory nongol dengan indahnya di dash Youtube gue (dan berhasil bikin gue teriak kenceng AAAAAAAA SHINTAROU WAI YU SO GANTENG HEAAAAAAA) ....dan juga Ayano no Koufuku Riron yang dengan teganya nunjukkin diri di hari pertama UN. Jadilah gue itu nangis (semu) karena masa lalunya Ayano--dan juga "ini kapan belajarnyaaaaaa."

Menjelang awal kelas 10, gue makin menjadi. Ketemu teman baru yang pernah studex pas SMP (iya, si Wina itu) dan ternyata dia cinta setengah mati sama Konoha. Itu mindfudged abis ya tolong.

("Kalo gitu entar nama lo jadi Kokonose Winalda dong?" --gue, seenaknya ganti nama orang hore.)

Dan sejak saat itu, suka duka gue bareng anak-anak Sakuzora pun dimulai. Iyap, bagian gue yang gelindingan mau nyari akun Twitternya Shidu diitung juga kok. Heboh-hebohan gue bareng mereka pas lagu Outer Science (yang dibilang kalo itu uploadan terakhir Jin) juga.

Temen baru di Internet? Banyak, banyak juga. Kalo yang ini sih sejak gue nulis di FFn. Ketemu teman baru dari fandom lain sih. Inazuma Eleven, Kurobas, ....eee apalagi ya, segitu doang sih. Yang demen Kagepro juga ada kok, ada juga dari 2 fandom pertama yang gue sebut tadi. Bahkan sampe sekarang juga. 

Kerjaan kita di penghujung tahun baru: gelindingan soal animenya dan Shounen Brave. Secara kan ada bebeb gue disitu~ //ditajong

Oh ya, gue gaakan ngelupain hype satu fandom pas Mekakucity Actors udah main. Dari episode 1, saampe akhir. Semuanya. Maji keren. Maegat. Sasuga Shaft juga kalo gini sih. Episode paliiiing ngefeels, kata gue, itu episode 7. Dari awal sampe akhir. Plis. Semua bagiannya minta diteriakin banget. //eh

Disitu gua ganyangka banget kalo Kano yang segitu bahagianya bisa banget ngomong hal semacam "nande shinjattan dayo, neechan?" --dengan suara yang dalem dan seksi sangat astoge. Terus juga Haruka di akhirnyaa aaaaaaaaa. ;A;

Mau ngaku deh, pas dia ngomong "aitai yo, Takane..." dan abis itu lagu endingnya langsung mulai, gue hampir nangis sesek napas. Gimana nggak nangis coba orang moodnya udah melengkapi banget HEAAAAAAAAA. __(:'3

Dan sampe sekarang juga, udah mau mendekati saat-saat gue mondok, gue masih ngerasa hype tiap tau ada yang demen Kagepro juga (walaupun cuman tau dari Mekakucity Actors juga...). Sekarang Anin yang dulunya demen Youtuber doang ikut demen ini juga. Temen-temen seperjuangan di fandom IE sama Kurobas juga. Kerjaan gue sekarang sih, nulis iya, fangirlingin OTP iya, ....meratapi harga merch yang selangit juga iya.

Pokoknya, gue sebagai penghuni fandom Kagepro dari sejak masih diitung fandom kecil sampe sekarang, yah pokoknya bangga banget deh. Salut deh buat Jin-san dan semuanya, buat semua kerja keras yang mereka buat dan tetep bisa direlate ke kehidupan kita sehari-hari (apalagi Summertime Record plis). Sampe kapanpun juga Kagepro bakal tetep jadi fandom kesayangan gue, sebanyak apapun fandom baru yang gue mampirin entar.

Oh, hampir aja gue lupa--Happy Blindfold Day! /o/

- Jian, 15 tahun, fiuh. ;u;

Rabu, 30 Juli 2014

Kangen. Sumpah kangen.

Berbulan-bulan ngeblank gatau mau curcol apalagi di blog sejak setengah tahun yang lalu, dan jreng--

--kretek-kretek gue injek ini fosil ayam goreng jaman kapan?

But anyways, halo! Halo buat siapapun yang terdampar disini, halo juga buat gue masa depan yang bakal baca ini suatu saat nanti (gue terkenal sekali dengan kebiasaan kayak gitu, eh--dia yang nulis, dia yang baca, dia yang ketawa sendiri /.../)

A lot, so much things happened. Gue mulai bahagia ternyata bener-bener ada orang yang setia menunggu karya-karya gue yang ketjil sangat di mata gue--gambar, fic, dan proyek beneran gantungan kunci gue. Gue--nggak tau lagi mau ngomong apa, ah gue tahun-tahun ini mulai banyak temennya, eh. Walaupun gue agak samwat sama mereka juga... ___(:3

Setengah 2014 ini emang setengah tahun yang ajaib sangat. Gue nemu banyak lagi temen di Twitter dan Facebook yang bahkan awalnya gue segen sangat sama mereka, bahkan mau nyapa aja harus nunggu saat yang tepat. Banyak yang berbaik hati berbagi ilmu sama gue. Dan generally mereka gokil, semuanya gokil--TL gue rame sangat dibandingin tahun-tahun lalu. Di setengah tahun ini juga penantian gue terbayar--Kagepro had finally gotten its own anime, dan gue dapet kado pertama dari Jepang. Walaupun cuman satu clear file Shintarou, gue udah bahagia sangat kok.

Dan tahun ini juga gue mulai kepedean kumat. Alasannya simpel banget--gue baru diship Aya-senpai sama Soraru.

(tapi gaya ngomongnya seolah-olah mengatakan kalo dia baru abis dilamar, tolong sumimasenkan anak ini)

Entahlah, gue nggak ngerti lagi. Kali aja gue kesambit karma karena kebanyakan nyimpen abang-abang simpanan? BAHAHAHAHAH yakali. Tapi yang jelas, walaupun bukan sama abang-abangan pertama gue, tapi gue udah dokis sangat loh--makasih Aya-senpai! Nanti tak bikinin puding yang banyak deh~ :D //bukan

Eeeee yang gue kangenin apa lagi ya? Gue udah cukup mindfudged pas tau Alfan juga doyan Mekakucity Actors dan ngeship SetoMary parah. Bagus, temen pengerlingan baru! >:D //bah

Sayang juga sih, secara bentar lagi gue mau beneran mondok, padahal tahun ini gue berhasil sekelas sama 5 orang yang gue harapkan, coretsalahsatunyamybebebmodusancoret dan nomor absen gue kedapetan nomor 8. Huoh shiet itu kan nomor punggungnya Mitobe.

Nangis gelundungan dulu boleh kan? >:D

Sepertinya gue masih akan menyandang gelar sebagai self-proclaimed-fangirl-yang-masih-setia-merhatiin-tanda-baca, kalo gini caranya. Gueee ngapain lagi ya abis ini?

- Jian, 15 tahun, can't hold it back anymore. //ngacohore