Ada yang pernah bertanya padaku; apa wajar untuk menghukum diri sendiri karena gagal memenuhi target sebulan penuh?
Jika kuingat lagi, suara yang bertanya saat itu tidak terdengar anggun. Suaranya cempreng, seperti anak kecil... juga seperti tidak asing di telinga.
Anak itu bertanya di keheningan malam, saat sinar bulan tertutupi awan, tidak mengenai wajahnya sama sekali. Jendela kamarku terbuka, dan angin yang berhembus dari luar memainkan tirai yang terikat rapi, tapi aku tidak tahu ke arah mana rambutnya berhembus.
Bahkan aku heran, seperti apa rupa anak ini?
“Target yang bagaimana maksudmu?”
“Begini, Kak.” Kursi yang dia duduki di sebelahku berderit sedikit. Sedang apa anak ini? “Aku mematok diriku untuk rajin menulis sebulan penuh setiap tahun. Tahun lalu aku berhasil melakukannya sebulan penuh... tapi kemarin aku lupa. Aku terlalu asyik menonton sampai lupa waktu, lalu sebelum kusadari, Ibu sudah menyuruhku tidur dari luar.”
“Oh...”
Pensil kumainkan. Rambut yang menutupi dahi kutiup asal. Pikiranku berkelana asal, karena bagaimana bisa seorang anak kecil sudah terpikir untuk menghukum dirinya sendiri?
“Tahun lalu kau hebat, kok. Pun tahun ini. Kuakui itu pertama-tama.”
Maka itu yang kukatakan pertama-tama. Aku tidak langsung lanjut berbicara, karena tetiba aku pun teringat pernah mengalami keadaan serupa. Dulu sekali, mungkin sepuluh tahun lalu.
“Tapi manusia tumbuh, bukan?” kuhirup teh panas di sisi. “Kita tidak akan bisa senantiasa rutin menulis selama sebulan penuh selama bertahun-tahun.”
“Eeeeh, kenapa?”
“Banyak alasannya.” Kini kepalaku pula kurebahkan di meja. “Hidup kita yang membuat kita begitu. Terkadang semangat menulis kita hilang, padahal waktu kita luang. Terkadang kita sangaaat ingin menulis, tapi kita pun ingat; ada tanggung jawab yang harus kita tunaikan terlebih dulu.”
Suara anak itu mengecil, seperti malu hendak mengakui kesalahannya.
“Tapi aku... lupa... atau malas. Itu salahku sendiri...”
“Bukan. Mungkin suasana hatimu sedang tidak pas. Mungkin kau menyebut dirimu malas, padahal sebenarnya kau lelah. Rutin menulis setiap hari seiring umur kita bertambah bukan sesuatu yang mudah, kau tahu itu?”
Awan yang semula menutupi bulan kini bergerak, memberi ruang bagi sinarnya untuk menerangi kamarku sedikit demi sedikit, membuat mataku mulai bisa mengenali ada barang apa di mana, jam menunjukkan pukul berapa, dengan siapa aku kini tengah berbicara.
Seorang anak usia belasan awal, yang kepalanya kini kuusap, yang begitu mirip denganku waktu kecil dulu.
“Jadi untuk kemarin, anggap saja itu hari senggangmu. Ya? Anggap itu sebuah hadiah; satu kesempatan untukmu beristirahat setelah berusaha keras selama dua belas hari kebelakang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar