Sabtu, 01 Desember 2018

tentang para pembenci dan lawannya

Gue kadang sesekali nemu orang-orang kayak gini kalo lagi ngapung-ngapung di tengah semesta Internet; orang-orang yang nyatain banget kebencian mereka sama satu kelompok atau etnis yang tertentu. Biasanya sih untuk beberapa grup terkenal dalam perihal keboibenan, dan pernah sekali gue nemu kontrasnya untuk suatu grup lokal tertentu; segitunya sampai mereka dianggap sebagai suatu kewujudan Tuhan. Apapun itu, dari dua jenis keberadaan segelintir yang ini, warganet lain semua bakal menilai mereka "yang sekadar cuman nyari sensasi". Drama queens and kings, as I would call them. Worshippers or haters.

Itu, seenggaknya, 7 tahun yang lalu, sampai sekolah gue di Malaysia ngubah persepsi gue tentang arti para pembenci yang sebenarnya.

Anak-anak di sekolah--bukan, madrasah gue sekarang punya pandangan lain tentang membenci dan mencintai. Terutamanya artis-artis. Satu aja sih prinsip mereka sebenarnya; that you don't have to be loud to hate or to love something. Kalaupun mau ditunjukin ya sesama komunitas mereka aja gitu.

Waktu itu pernah suatu malam seorang kakak ini nyeramahin kita dikit-dikit.

"Kalian tau nggak bencana yang di Palu itu," katanya kira-kira, "itu didahului dari mereka buat kegiatan maksiat di sana."

Dan mulailah kakak itu cerita tentang gimana sebelum gempa ada diselenggarakan konser LGBT. Nggak tau ini yang terjadi atau ritual pemujaan dewa laut. Nggak tau, tapi ada perayaan yang emang terjadi sebelum gempa itu.

Kebetulan, dalam waktu dekat suatu grup K-pop yang lagi viral mau konser di Malaysia. Shah Alam, persisnya. Entahlah di Bukit Jalil apa nggak, tapi kakak ini nyinggung juga soal konser padaan.

"Emang kalian mau kalau sampai satu Malaysia kena bala gegara konser mereka?" kata kakak itu 'nyemangatin' mereka. "Makanya kalian banyakin do'a dong biar mereka nggak jadi konser di sini!"

Yang gue kaget adalah; respon sekeliling gue kompak banget; aamiiin!

Gue di tengah-tengah kerumunan, diem aja, gatau mau mihak yang mana. Tapi abis itu gue ketawa miris, diem-diem, sendirian.

"Wah. Fans pada kecewa nih entar."

Di satu sisi gue nggak bisa nggak setuju sama mereka. On the religious side, at least. Udah banyak cerita-cerita gue denger tentang satu wilayah yang kena bencana karena secuil maksiat (kalau seandainya kejadian di Palu nggak cukup buat jadi bukti), jadi takut juga kalau mereka betulan datang dan hal itu bener-bener terjadi. Di sisi yang lain, pasti fans-fans pada kecewa. Apalagi kalau mereka sampai tahu ini efek (baik) do'a anak-anak santri.

Tapi buat gue, dari sini gue nemuin hakikat hatersyang sebenernya. Mereka membenci artis dengan alasan yang masuk akal; emang mereka bisa nolongin kalian di akhirat entar? Apa untungnya suka sama orang yang nggak tahu eksistensi kalian?

Gue, dari lubuk hati yang terdalam, masih seorang fangirl yang nempel sama 8 grup K-pop sekaligus. And I'm fully aware of these consequences. Makanya gue bikin komitmen dalam hati; untuk nggak terlalu terobsesi. Harus pada tempatnya kalau mau ngebobrok. Nggak boleh jadiin mereka idola hidup, karena selayaknya panutan hidup umat Islam cuman Nabi Muhammad SAW, not the others.

Tapi kebanyakan fangirl di lingkungan gue… susah nyari yang kayak gitu. Rata-ratanya lebih berpengalaman, nonton jauh lebih banyak dari gue. Ada sebagian juga yang pernah berpengalaman nonton konser, sampai nangis galau karena mereka nggak bisa dateng. Ada yang sampai bisa ngafalin huruf hangeul yang banyak, susah dan riweuh di luar kepala, sampai gampang banget kalo mau ngafalin lagu padaan. Bahkan ada yang sampai jadiin kode-kodean; nulis bahasa Indonesia pakai huruf hangeul biar nggak dimengerti orang. Lah gue? Mau ngeja Hyungwon aja setengah hidup.

Gue tau; gue selalu nahan diri kok ngeliat merchandise K-pop dijual di Internet. Kayak tadi; mengingat kakak-kakak(?) DAY6 mau konser di Jakarta minggu depan, dan udah ada fanbase yang jualan merchandise buat konser padaan di Twitter.

Hanya Allah yang tau gimana perasaan gue tadi. Minggu depan konser, eh besok guenya balik sekolah di Malaysia. And not to mention that they're my ultimate group of the moment.

Jadi pengen ngetawain diri sendiri. Dulu gue selalu bilang kalau gue gamau temenan sama selain anak-anak perfandoman, tapi sekarang gue lebih deket sama anak-anak yang nggak demen apapun. Ironis, tapi di saat yang sama gue juga nyaman gitu.

Honestly speaking, gue juga takut kalo temenan sama anak-anak perfandoman di lingkungan gue sekarang. Takut mereka move-on satu-satu, ninggalin gue sendirian. Gue udah beberapa kali pengalaman kayak gini, hasil dari pencerahan (atau pencucian otak kalau menurut sisi jahiliah gue) kakak-kakak dan guru-guru di sana.

Tinggal ya ada juga sebagian orang yang begitu udah nggak suka K-pop lagi tapi tetep suka artis belahan dunia lain. Lah. Maksudnya; ngapain juga, gitu? Mending suka sekalian semuanya aja atau nggak suka sama sekali. Beneran deh. Seakan perihal keboibenan di kalangan anak-anak santri dijadiin kambing hitam.

Don't get me wrong on this. Gue anak santri, dan ya, gue juga seorang fangirl. Gue nggak mau berat sebelah, benci sebelah ke salah satu pihak. Ini emang dua sisi yang saling bertolak belakang, jadi gue ngerasain banget gimana susahnya bisa seimbangin duaduanya sekaligus.

Kunci utamanya satu sih; fokus.

Gue pernah ngejalanin satu eksperimen diem-diem, untuk ngetes daya fokus gue kalo gue tetiba kepikiran jauh-jauh sambil muroja'ah. Setengah jam kepikiran perihal keboibenan, setengah jam abis itu kepikiran animanga.

Karena gue udah biasa latihan fokus untuk yang pertama (dengan cara nepis jauh-jauh sambil istighfar), jadi pas kepikiran yang kedua gue lebih susah untuk konsentrasi balik.

Nggak selalu artis kok yang bikin hilang fokus; itu kesimpulan gue. Bahkan terkadang hal-hal sepele di keseharian kita juga bisa bikin hilang fokus.

So if someone who shares the same conditions as me happens to pass by this and actually make it to this line, gue mau ngasih satu tips: banyakin fokus, shalat Taubat dan istighfar. Tahu tempat kalau mau fangirling. Kalau mau beneran taubat sampai move on juga nggak dilarang kok--siapa gue mau ngelarang orang-orang untuk berhenti suka sesuatu? Tapi kalau masih mau bertahan… emang sih agak susah. Balik aja ke tiga poin pertama tadi.

Satu lagi; kalau mau juga jadi haters, jadilah hatersyang rasional. Pembenci yang beralasan, nggak kayak kebanyakan orang di Internet yang benci orang tanpa alasan yang mendasar. Dan sebaiknya don't voice out your hate to public. Karena terkadang pembenci yang unjuk diri adalah penggemar yang terselubung.

- Jian, 20 tahun, capek.

Sabtu, 24 November 2018

Curcol: Shiryoku Kensa (2018 ver.)

Atau lebih tepatnya; sebuah sesi curcol yang direvisi.

Soalnya pandangan gue terhadap kacamata udah sedikit banyak berubah dibanding 5 tahun yang lalu. Iya, gue masih ngayal apa jadinya kalo gue pake kacamata. Masih iseng nyoba-nyobain kacamata orang, tanpa ngerasain hakikat sebenernya ngeliat dunia dari mata mereka.

Dan sekali gue nyadar, gue mikir balik untuk sesaat.

Gue masih di pondok gue waktu itu, udah mau angkat takbir shalat Ashar. Apa Zhuhur gitu, lupa gue. Yang penting siang. Gue berdiri sebelah temen gue yang, kebetulan, kacamataan. Dia minta gue pegangin bentar kacamatanya. Mau betulin mukena, ceritanya.

Mengingat mukena gue juga nggak ada tali yang biasa ngitarin kepala itu, iseng-isenglah gue pake itu kacamata.

Cuman yha, dunia di balik kacamata itu jadi mengecil. Gue ngeliat seolah rak buku di depan gue jadi jauh banget. Kepala gue pun nyut-nyutan seketika.

"Gilak," kata gue pas dia ngambil kacamatanya balik. "Minus berapa nih?"

Tanpa noleh, dia nyahut.

"Lima."

Apa yang dia lihat selama kacamatanya dilepas, kalau gitu? Seburem apa dunianya tanpa kacamata sampai gue bisa nyut-nyut segitunya kalo mau ngerasain juga?

5 tahun yang lalu, gue agak gimana gitu ngeliat keluarga gue, setiap seorang semua kacamataan. Gue doang yang nggak. Kalaupun ada, itupun plano. Anti-radiasi. Cuman dipake depan layar.

Iya sih, sekarang gue masih sering nyoba-nyobain kacamata tiap kali lewat stan kacamata roda lima di mall-mall, soalnya gimanapun juga gue pengen kacamata plano yang bikin gue keliatan dewasa dikit kalo dipake. Bulet mah nggak cocok. Entar gue udah culun tambah culun.

Bingung aja gitu sama orang-orang yang cocok sama kacamata bulet. X""D

Intinya mah apa? To appreciate what you have before it disappears gradually. Gue belom tes mata lagi, berharap besok bisa sambil sekalian jalan. Takut minus gue nambah, padahal dunia di penglihatan gue nggak berubah banyak dari 5 tahun lalu. Takut, soalnya belakangan gue suka mantengin layar gelap-gelap.

Tapi sambil itu, gue tetep bersyukur karena mata gue udah dan masih kayak gini. Masih bisa ngebaca tulisan yang kecilnya keterlaluan segedeng, masih bisa ngeliat seseorang dan ngebaca plang dari kejauhan, masih nggak ada apapun yang keliatan burem.

Oh, dan satu lagi. Masih menunggu translate-an manga Shiryoku Kensa yang entah dari kapan admin-nya hiatus. Bahkan stiker Line pun nggak bisa mengobati kerinduan gue sama yang ini.

- Jian, udah kepala dua dan masih berusaha untuk nyangkal.