Tapi emang bener sih, udah lama sejak terakhir kali gue ngepos. Dua tahun ada. Ketemu fosil tulang ayam goreng pun ada.
Gue nulis ini dalam keadaan nambah status baru. No, bukan status single-nggaknya. Kalau itu sih, gue udah terlanjur ogah ngelepas status gue sebagai seorang jomblo bahagia. Bertahun-tahun nggak pernah ngerasain yang namanya cinta berbalas, sampai akhirnya terlanjur malas mencari cinta itu sendiri.
Sedih banget ya kedengerannya? Nggak sesedih yang dipikir, kok, tenang aja.
Anyways, sejak 9 Agustus lalu, Alhamdulillah, bisa dibilang gue lulus dari pondok gue yang sekarang. Ujian akhirnya online sih, dan gue dapet mumtaz untuk hasilnya. Padahal sesama temen-temen gue yang ikut ujian (yang ada 4 orang dan semuanya sesama anak rantau kayak gue) udah takut-takutan aja sejak seminggu sebelumnya, padahal mah pada akhirnya juga pada mumtaz semuanya.
Sekarang gimana kabar masing-masing anaknya? Dua anak ngajar di pondok lain, dua lagi ke Pare untuk belajar bahasa Arab, dan di sinilah gue, akhirnya dalam proses untuk mengejar impian gue yang kedua; untuk kuliah, demi menjadi seorang desainer grafis. Masih kayak jaman SMA aja impian gue, cuman ya lebih simpel aja.
Seenggaknya gue udah sadar sesuatu sepanjang perjalanan gue beberapa tahun kebelakang ini; kalau nggak semua orang sama laju hidupnya.
Ada yang normal, dengan segala naik-turun standarnya. Ada yang hidupnya kelewat gampang dan lancar jaya tanpa hambatan (atau super-ultra-easy-mode, mengutip kata seorang karakter game yang gue rajin mainin akhir-akhir ini). Ada juga yang struggle terus, sampai dia pun bingung kapan bisa bahagianya. Mungkin, mana tau, ada juga yang kayak gue, seakan nggak kemana-mana padahal jalannya udah jauh banget.
Iya lah, bertahun-tahun gue selama mondok liat temen-temen gue sejak SD sampe SMA lulus sekolah sekian, masuk sekolah sekian, keterima di universitas sekian. Yang gue bergelung aja bertahun-tahun dalam satu tempat yang sama, yang nambah cuma jumlah juz yang dihafal. Tapi tetep, semuanya terbayar sekaligus ketika gue betulan selesai.
Kelar syahadah tanggal 25 April lalu, gue berasa lompat jauh. Jauh banget. Seakan bisa ngebalapin temen-temen gue yang lulus tahun ini. Nggak nyesel gue ngomel-ngomel karena proses syahadah gue yang paling bentar diantara sesama temen sekhatam; ketika yang lainnya setahunan, gue cuman 3 bulan.
Kalau mikir-mikir balik sepanjang tahun ini, gue kadang cuman bisa senyum sendiri. Mikir, emang Allah yang paling tau laju hidup kita sebaiknya kayak gimana.
Nggak perlu liat hidup orang lain, karena kita bukan mereka. Kita ya kita, cerita yang kita tulis juga lain dari mereka, dan sebaiknya punya kita harus ditulis sebaik dan seunik mungkin. Nggak usah peduli soal laju-nggaknya, karena terlalu cepat pun nggak kerasa serunya. Ambil setiap waktu yang kita butuhin, semampunya, sambil-sambil lihat dan nikmati dinamika sekeliling kita.
Karena seenggaknya, kita jalan, walaupun sedikit.
- Jian, baru 9 hari sejak 22 tahun, ...entah kapan kelar sakit belakangnya. ;w;)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar