(a little note: character recycle because why not?)
—
Namanya Melati Astari, tujuhbelas tahun.
Pada sekilas pandang, aku sempat mengiranya baru menginjak belasan, ketika pada kenyataannya tidak sama sekali.
Maksudku; siapa yang tidak akan tertipu dengan paras imut putih dan rambut lurus sebahunya? Lain sekali denganku yang wajah pun sudah bertebaran jerawat karena terlampau banyak pikiran.
Hanya saja, kendati baru dua hari aku mengenalnya sebagai tetangga sebelah rumah, aku seketika kagum padanya. Bukan hanya pada suara tinggi melengkingnya yang lihai bernyanyi tidak pandang waktu, situasi, dan kondisi, namun juga pada cara pandangnya yang eksentrik tentang dunia.
Kadang aku tak percaya dia seangkatan denganku, yang setahun lagi akan lulus sekolah menengah atas.
—
“Mytha, mau main layangan, nggak?”
Ini baru hari ketiga semenjak dia baru pindah ke sebelah rumahku, namun lagi-lagi Melati sudah akan mengajakku melakukan hal yang aneh. Kemarin kami sudah jadi bahan pajangan seni hidup sepanjang hari di dekat kawasan Kota Tua, lalu saat hari pertamanya tiba dia langsung mengajakku bersepeda sore-sore di tengah kemacetan ibukota.
“Main layangan?” Aku mengernyitkan dahi padanya. “Mel, kita ini perempuan, lho. Udah gede pula.”
“Ya terus kenapa?”
“Entar apa kata anak-anak yang lain kalau mereka ngeliat kita? Nggak malu apa diketawain mereka gegara udah gede tapi mainannya masih layangan?”
“Ngapain peduli kata orang?”
Ah, sial. Senyuman itu disunggingnya lagi. Kalau sudah begini, kalah telak sudah aku dengan permintaannya. Persis seperti yang sudah-sudah.
“Aku udah siapin layangannya kok, tenang aja.” Melati menarik tanganku menuju pagar rumahnya, tampak dua buah layangan sudah tergantung di sana. Sebuah biru, sebuah lagi ungu.
Lalu, sembari memberikan layangan biru kepadaku, kembali dia tersenyum usil. “Tenang aja Myt, kamu beruntung banget udah bisa ketemu aku. Aku bakal ngajarin kamu main layangan sampai kamu lebih jago dari aku! Kukasih pinjam yang biru oke, soalnya yang ungu kesayanganku banget!”
Ya ampun. Sekarang dia menyangka aku tidak bisa main layangan sama sekali.
“Aku tuh bukannya nggak bisa, Mel...”
“Oh ya?” Seketika pandangannya berbinar. “Berarti sore ini kita bukannya sesi tutorial layangan, tapi adu layangan sampai putus, gitu?”
Aku terdiam sebentar, berusaha mencari apa alasan yang bisa kugunakan untuk mengelak baik-baik darinya. Sayangnya, besok hari Minggu, dan semua tugasku sudah kukerjakan sejak kemarin malam.
“Nggak usah adu layangan kan juga bisa—”
“—oke kalau gitu kita main kasual aja! Pulangnya kita beli ayam geprek di dekat pertigaan yang kamu pernah bilang enak itu. Gimana?”
Memang kalah telak sudah aku.
—
Kurasa satu-satunya persamaanku dengan Melati adalah fakta bahwa kami sama-sama pernah menjadi anak kampung yang hobi main layangan setiap sore sepulang sekolah dulu.
Layangan kami tetap menjulang tinggi, sesekali seakan melawan arah desir angin pukul lima petang. Beruntungnya bagiku, walaupun adabanyak orang di lapangan besar ini, tidak ada satu pun yang tampak peduli, apalagi menuding jari ke arah kami sambil berbisik-bisik entahlah.
Punya Melati, si ungu, lebih lihai meliuk dan melawan angin dariku. Atau memang karena dia yang seakan baru habis bermain layangan kemarin, berbeda denganku yang baru menyentuh layangan setelah apa yang kurasa seperti tujuh tahun.
Maksudnya; lihatlah, yang mula-mulanya aku dan Melati hanya terpisah sejengkal kini sudah hampir berjarak satu meter karena aku yang kelimpungan berlari kesana-kemari, susah payah menjaga agar layanganku tidak terlalu buai. Lain dengannya, yang tidak beranjak terlalu jauh dari tempatnya semula sejak layangan kami berhasil berlayar di tengah cakrawala lembayung.
Melihatku, dia hanya tersenyum usil.
“Kelamaan nggak main ya, Myt. Maklum, kok.”
“Diam kamu, Mel.”
Itu, lalu dengkusan kuhembus. Posisi yang tepat kini sudah kutemukan, layangan biruku pun kembali stabil, tidak segoyah tadi.
Namun tak sampai lima menit kemudian, sebuah layangan lain datang tetiba, menukik ke arah kami. Ia besar dan berwarna-warni, hampir-hampir kukira itu betulan naga terbang kalau mataku rabun. Aku berhasil menghindar darinya, tapi tidak dengan Melati. Sadar-sadar kuperhatikan setelah susah payah mempertahankan layanganku, miliknya sudah terbang bebas dibawa angin.
Yang aneh dari itu hanyalah dia hanya berdiri di tempatnya, tidak sedikit pun lari untuk mengejar layangannya sebagaimana lazimnya anak-anak lain bila layangannya putus. Dari arah kepalanya, aku sudah menduga kalau dia tengah memandang layangannya pergi menjauh.
Maka aku bergegas menghampirinya, darah dalam tubuhku seakan menggelegak karena marah. Bukan padanya, tapi tentu saja pada naga terbang jejadian itu.
“Mel, nggak dikejar apa layangannya?” aku bertanya, nada suaraku tanpa sengaja meninggi. “Atau labrak kek itu yang punya layangan naga sialan itu, udah mutusin layangan kamu gitu aja?!”
Dia tidak kunjung menoleh padaku. Kalau kuperhatikan wajahnya dari samping begini, jangankan sedih atau marah, justru wajahnya mengisyaratkan... entah, rasa lega dan gembira.
Kalimat yang dia lontarkan saat dia beralih padaku kembali membuatku mempertanyakan jati dirinya untuk kali kesekian.
“Balik yuk, Myt. Kita singgah makan ayam geprek sesuai janji.”
—
Kami kembali pulang dengan berbonceng sepeda, seperti ketika kami pergi tadi. Bedanya, yang menyertai kami hanya sebuah layangan biru terang. Perut kami sudah kenyang, masing-masing karena seporsi ayam geprek dan segelas es teh manis.
“Aku masih nggak ngerti deh, Mel,” aku berujar pelan.
Melati selaku yang memboncengku hanya bersenandung.
“Hmm~?”
“Layanganmu itu, lho. Bukan punyaku.” Kuhela napasku. “Kalau kamu kayak gini ke layanganku mah iya, yang ada aku sendiri yang kayak kebakaran jenggot. Ini punyamu, masalahnya.”
“Kan masih ada yang kupinjemin ke kamu~”
“Itu bukannya layangan kesayanganmu?”
Sebelum aku menyadarinya, Melati berhenti mengayuh. Kepalanya seperti menengadah ke arah langit pukul lima empatpuluh lima petang.
“Kesayangan sih emang,” katanya, “tapi kita bisa apa kalau udah putus? Mau dikejar? Yang ada kitanya yang sakit atau kenapa-napa. Dia sih udah nggak peduli, udah bahagia dipeluk angin.”
Untuk beberapa lama, aku menyangka dia sedang menceritakan isi hatinya.
“Sama juga kayak ngejar mantan, Myt. Sekali dia lepas dan udah di pelukan orang lain, kita udah nggak bisa apa-apa. Cuman bisa berdoa yang terbaik buat mereka, sambil kita juga pelan-pelan berubah ke arah yang kita inginkan sendiri.”
“Bentar... gimana?”
“Ya gitu.” Melati kembali mengayuh perlahan sepedanya. “Ngejar mantan itu kayak ngejar layangan putus; karena pada hakikatnya, kita hanya ngejar sesuatu yang sudah rela dalam pelukan yang lain. Alias, kita hanya ngejar sesuatu yang sia-sia.”
Aku tidak tahu apa asam-garam dalam cerita cintanya sampai dia mengutarakan hal seperti ini, namun sepertinya bukan pada tempatku saat ini untuk menanyakannya. Satu hal yang bisa kupastikan hanya satu; kalau pola pikir anak ini tidak sesederhana yang kupikir selama ini.
Yah, pada akhirnya, memang kita takkan bisa menilai sebuah buku dari sampulnya saja, bukan?
“Kamu aneh ya, Mel.”
Kali ini dia menoleh padaku, tersenyum ringan seperti biasanya.
“Hehehe. Kalau nggak aneh bukan Melati namanya.”
Untuk kali pertama, aku begitu menantikan hal aneh apalagi yang akan dia lakukan esok hari, dan berharap agar aku juga diajaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar