Senin, 10 Juni 2013

Cinta Dalam Sepucuk Teh

Firstly said, gue pengen ngegalau tingkat elit. Yay.
Tapi, berhubung ini fanfic, dan gue males banget bikin akun di fanfiction.net, gue mutusin untuk ngepos di sini.
Ini bukan anime fanfic. Read on and you'll know where do I get the ideas.
Enjoy! :D

P.S.: Judul sama cerita rada nggak nyambung, emang...salah lagi deh gue...
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Namaku Inoue Kawamura, 14 tahun. Saat ini sedang liburan musim panas, dan aku dan teman-temanku sedang berlibur ke Indonesia. Kami mengunjungi banyak hal disini, salah satunya adalah kebun teh yang berada di Puncak.

Hari ini juga, 4 Juli 2013, pukul 08.00, kami sepakat untuk pergi memetik teh bersama. Entah apa yang ada di pikiran teman-temanku saat ini, sudah 2 hari sejak kami berada disini dan setiap hari selalu saja memetik teh. ._.)

"Inoue, jadi ikutan apa kagak neh?"

Yang barusan itu sahabatku, Himeka Nakano. Sebagai sahabat dekatku sejak TK, aku mengerti betul kepribadiannya. Bacot, energetik, dan periang. Yah, bisa dibilang dia seperti musim panas di Kutub. Nggak ada mati-matinya.

Aku buru-buru mengikat tali sepatuku, lalu berdiri. "Eh, iya! Bentar, ya!"

Kemudian melesat bersama mereka.

*****

08.30.

Yup, 30 menit sudah habis buat jalan-jalan! Kami sekarang sudah berada di titik yang sama yang kami hampiri sejak 2 hari yang lalu, "Hotspot", kalau kata Himeka waktu itu.

Dan seperti biasa, "Hotspot" sepi. Hanya ada ada dua orang pemetik teh bertopi caping yang sedang menjalankan aktivitasnya, seperti biasa.

"Kalau begitu, kita mulai saja pembagiannya!" Himeka mengeluarkan toples undiannya.

Berdasarkan hasil pembagian, kami yang berjumlah 10 orang dibagi menjadi 5 pasang. Aku berpasangan dengan sahabatku yang lain, Kousuke Hideaki. Anaknya populer di sekolahku, bukan cuman karena tampangnya yang keren, tapi juga karena sifatnya yang baiik banget. Diantara teman-temannya, dia paling dekat denganku.

Kami pun berpencar. Sebagian ke kanan jalan, sebagian lagi ke kiri. Tinggal kami berdua yang bingung arah.

"Kita udah ke sebelah kanan kemaren, gue juga ke sebelah kiri 2 hari yang lalu..." Ia hanya menengadah ke arah sinar matahari pagi Puncak.

"Sama, gue juga..."

"Mending gini aja." Ia menoleh kepadaku. "Lo, gue, kita main kejar-kejaran di sebelah sana."

"Gokilnya lo kumat lagi, ya." Aku menepuk dahiku. "Masak iya sih kita kejar-kejaran disini? Ntar kalo misalnya keinjek salah satu tanaman disini, gimana dong?"

"Tadi apa kata Himeka, he?" Kousuke menepuk pundakku, tersenyum lebar. "Kita nggak harus metik teh, kan kemaren udah kebanyakan metik. Nah, daripada kita berdiri disini kurang kerjaan, mending kita main aja! Gimana?"

"Iya juga, sih."

"Kalau gitu, sekarang,....lo jadi!"

Cubitan pelan di pipiku, lalu dia pun berlari kencang. Aku hanya terpana, sebelum akhirnya semilir energi mengalir di dalam diriku, selagi aku berlari mengejarnya.

Kami berlari kemana-mana, menyusuri kebun teh yang luas, bermandikan sinar matahari yang hangat dan terik. Entah sudah seberapa jauh aku berlari, pandangan mataku hanya tertuju pada Kousuke yang berjarak hanya 10 meter dariku. Tujuanku hanya dua: Mencubit pipinya, lalu berusaha sekuat tenaga agar tidak kena lagi. Tapi aneh, tiba-tiba badanku seakan tertarik menuju tanah.

BRUK!

Lalu semuanya buram.

"Lho? Hei, hei! Inoue, lo nggak apa-apa kan?"

DRAP, DRAP, DRAP.

Sekarang aku yakin, tubuhku seperti diangkat dan didudukkan seseorang.

"Nah kan, baju lo kotor lagi! Untung tanahnya lagi kering!" Tangannya cekatan membersihkan kotoran yang menempel di bajuku.

Sesaat kemudian, mataku sudah mulai jelas lagi. "Makasih ya Kousuke, udah nolongin gue."

Ia tersenyum, membantuku berdiri. "Iya, sama-sama. Tadi gue khawatir banget pas lo jatoh tadi. Gue kira ada apaan, nggak tahunya...."

...cuk..

Siapa barusan?

"Shhhh," aku menyenggol lengan Kousuke. "Gue yakin barusan ada yang ngomong."

Benar saja, lama kelamaan suara itu makin jelas. Persis seperti suara anak kecil.

"Pucuk.....pucuk.....pucuk.....pucuk....."

Kami tertawa sejenak. "Kok malah kayak iklan TV disini, ya? Hahahahaha!"

"Pucuk.....pucuk.....hik..hik...huuu..pucuk...."

"Lah? Kok malah nangis?" Aku yang semakin kebingungan memutuskan untuk mengubah tujuan: Mencari asal dan tujuan suara itu.

"Ayo, sini lo. Ikut bareng gue," kataku akhirnya, berjalan sambil menggandeng tangan Kousuke.

*****

Yee, ini sih sama aja! Jalan balik ke pendopo dekat tempat pemetikan teh, titik awal sebelum kami berpencar.

"Kawamura, Hideaki!" teriak salah seorang yang masih disana. "Lo pada ngapain??"

"Ada yang nyari pucuk!" teriakku balik. "Au deh tuh, nggak jelas banget!"

"Um...Inoue?" Kousuke udah pasang muka serem duluan. "Itu samping lo.....siapa?"

Keikut serem deh akunya-_- Aku menoleh, mengikuti arah yang ia maksud. Dan ternyata, jarinya mengarah ke seorang gadis kecil yang duduk di sebelahku. Rambutnya hitam sebahu, memakai hiasan bunga melati di telinga kirinya. Ia memakai sweater berwarna hijau (di tengah musim panas seperti ini???) dan dress selutut berwarna putih. Kakinya nggak beralas. Dan mukanya...jangan ditanya. Otentik, Jawa asli! Kirei..

"Inoue, coba lo ajak ngomong dia pake bahasa Indonesia deh. Lumayan kan, itung-itung ngetes kemampuan lo disini..."

"Kok gue? Lo kan cowok, nyalinya lebih baja dari gue...."

"Gue ngeliatnya udah firasat. Entar kalo gue udah ngajak dia ngomong, entar dia malah suka sama gue lagi."

"Kepedean lo." Aku hanya nyengir jail. Sementara itu, anak itu mulai menangis lagi, "Pucuk....pucuk....pucuk....hik..hik.."

"Sudah, sudah..." Aku berusaha menenangkannya. "Tidak perlu menangis! Memangnya kau kenapa? Hasil petikannya hilang, ya? Orangtuamu mana?"

Anak itu balas menatapku. Matanya mengerjap-ngerjap. Coklat, tapi kosong. "Bukan begitu, Kak....Sebenarnya..."

"Ada apa? Ayo, ceritakan saja masalahmu! Kita berdua disini bakal siap ngedengerin curhat kamu."

Anak itu terdiam, menelan ludah.

"Sebenarnya, Kak...aku ini...adalah salah satu ulat daun di daerah sini..."

*****

Mind-blown.

Ulat daun? Tapi kok wujud manifestasinya jadi anak kecil secantik ini? Ah, nggak percaya! Harusnya kan bentuknya jadi semacam pocong ulat daun... ( ._.)(._. )

"Tapi emang bener kayak gitu!" Anak itu ngotot saat kutanyai seperti itu. Lalu ia pun menceritakan masa lalunya. Ternyata, sejak daun pucuk teh kesayangannya hilang diambil manusia, ia putus asa lalu berusaha untuk merantau keluar rumahnya, meninggalkan keluarganya. Dan, di tengah kesedihannya itu, ia berangsur-angsur mati karena kehabisan tenaga.

"Kasihan sekali..." Hampir saja aku menangis. "Baiklah kalau begitu, asal kau memberi tahu tempat tinggalmu, akan kami antar kau pulang!"

Anak itu menggeleng. "Tidak mungkin...itu tidak mungkin...rentang waktunya saja sudah 10 tahun..."

"10 tahun?" Kousuke langsung nyelonong. "Kalau begitu, daun pucuk di tempatmu pastinya sudah tumbuh kembali, kan!"

Perlahan, senyum mengembang menghiasi bibir anak itu. "Sungguh? Ah, baiklah! Tolong ya Kak, pertemukan aku dengan pucuk kesayanganku itu!"

"Oke!"

*****

Aku dan anak itu berdiri di tengah-tengah kebun teh.

"Pertama-tama, yang harus kita lakukan adalah cari-cari sekitar kebun teh ini..."

"Nggak, Kak. Kita harus mencari mayatku terlebih dulu."

-----Wait, what?!

Sorot mata Midori, begitu aku memanggilnya, sangat meyakinkan. "Sudah 10 tahun sejak aku mati disini, Kakak lupa?"

Oiya, ya. Bener juga. "Nggak jauh-jauh, kan?" tanyaku pada Midori.

Ia hanya mengangkat bahunya. "Entah....aku lupa."

"Lo pada," Kousuke memanggil dari kejauhan. "Dari tadi ini gue kayak ngerasain tulang-tulang disini, lo abis makan ayam ya?"

Tulang? Aku segera berlari ke pendopo, mengamati benda penemuan Kousuke. Tulang beruas-ruas, persis seperti ulat. Jangan-jangan...ini Midori 10 tahun yang lalu? Tapi kan...ulat itu nggak ada tulang?

"Iya, bener! Itu aku! Nah, sekarang, rumahku." Midori berbalik, lalu berlari duluan. "Lewat sini, Kak!"

Kami bertiga berjalan menyusuri kebun teh, rutenya sama persis seperti waktu aku dan Kousuke main kejar-kejaran tadi. Tidak berapa lama kemudian, Midori berseru riang, menunjuk-nunjuk sebuah tanaman teh di pertengahan petak, "Itu Kak! Itu rumahku! Waaah, pucuknya belum diambil!"

Aku terpaku, memegang wujud ulat kecil Midori itu. "Kasihan...," batinku, "Apa reaksi keluarganya saat melihat nasib anaknya yang malang ini?"

Kousuke menaruh tangannya di atas rambutku. Seakan menyemangatiku. "Sudah, taruh saja. Keluarganya menginginkannya, begitu pun dia."

Aku mengangguk. Lalu, dengan hati-hati, kutaruh jasad kecil itu diatas pucuk daun itu. Pucuk daun kesayangannya, rumahnya...

Sesuatu yang ajaib tiba-tiba terjadi. Jasad itu perlahan seperti terbungkus sinar yang lembut, perlahan membesar, warnanya yang pucat kembali menghijau....

....dan perlahan ia bergerak. Menggeliat-geliat. Entah reaksiku itu merasa terharu atau jijik melihatnya, terutama saat banyak ulat-ulat lain yang memanjat ke atas pucuk daun itu.

Sementara itu, Midori yang memakai sweater hijau pun perlahan ikut memudar. Sebelum ia memudar sepenuhnya, ia sempat menitikkan air mata bahagia. "Kakak...makasih ya...udah ngebalikin aku ke rumahku dan daun pucukku....Semoga kalian berdua makin bahagia..."

"Iya!" seruku gembira.

"Jaga dirimu baik-baik ya," Kousuke melambaikan tangannya.

"Un!" Midori mengangguk semangat, lalu memudar sepenuhnya. Bergabung bersama sinar matahari yang cerah.

*****

11.00.

"Wah, tumben?" Himeka kebingungan melihat kami berdua. "Cepet banget selesainya? Biasanya paling akhir dateng ke sini?"

"Banyak hal yang kami alami." Aku tersenyum ke arah Kousuke. Ia membalas senyumanku, mengangguk-ngangguk.

"Hoho~ Mau tembak-menembak nih yeee, ceritanyaaa! :D"

"Nggak tuh." Sambil mencubit pelan pipi Kousuke, aku berteriak, "HAHAHAHA, lo jadi sekarang!"

Akhirnya, kami pun berkejar-kejaran sepanjang jalan menuju villa kami, selagi sisa 8 orang itu hanya menatap keheranan ke arah kami.

Dan entah kenapa, persahabatan kami semua menjadi lebih erat sejak saat ini.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar