Jumat, 17 Februari 2012

Kenangan Terakhir

Aslinya ini cerpen buat kording ACEX 2012, tapi karena kebanyakan dialog, apa boleh buat. Langsung ganti cerita ! -_-v *celingak celinguk*



Melati Astari
14 Februari 1998 – 30 Januari 2012

Hanya itu kenangan terakhir yang tersisa dari sahabatku. Tidak lebih. Dan setiap kali aku mengunjungi batu bertulis itu, aku hanya membatu, mengingat kembali saat-saatku bersamanya…

~~~~~

Senin, 21 Januari 2012. 9 hari sebelum kejadian itu.

“Hah ?! Pindah ? Serius lo ??” seruku kaget. Saat ini aku dan Melati sedang berada di aula besar sekolah.
“Iya,” kata Melati pelan. “Gue sih betah di sini, tapi karena ortu dinas, ya…”
Aku mendesah putus asa. Melati sudah menjadi sahabatku sejak SD. Wajar kalau aku sedih, karena harus berpisah dengannya dalam waktu yang lama.
“Lo udah ada pilihan buat pindah ya Mel ?” tanyaku.
“Iya,” kata Melati. “Ke Singapura.”
“Kapan pindahnya ?” tanyaku.
“Minggu depan,” katanya lagi.
“Nanti kalo pulang bawain oleh-oleh, ya…” kataku lantas nyengir dan pergi meninggalkannya.
“Iya Mythaaaa….” Terdengar suara Melati dari kejauhan.

~~~~~

Aku termenung sendirian di depan kelas. Tiba-tiba, terdengar suara sesorang memanggilku.
“Mythoooo !! Mythooo !! Pentiing !!”
Aku menoleh. Ternyata Olla, sahabatku juga. Dia terlihat kelelahan.
Masih ngos-ngosan, dia berkata padaku, “Mytho, lo harus tau—“
“Yaaaah….,” potongku sembari tertawa kecil. “Ini lagi, manggil-manggil gue Mytho. Tak gebuk ntar baru tau—HAHA gakdeng. La, nama gue bukan Mytho, tapi Mytha !”
“Iya Mythaaa….ampun mbah…ampun mbah…,” ledek Olla. Lalu ia berkata lagi, “Oh ya Myt, lo tau gak kalo Melati mau pindah ?”
“Justru itu yang bikin gue ngegalau disini,” kataku.
“Tapi kok dia pindah ?” tanya Olla. “Padahal kelihatan dari mukanya kalau dia senang disini.”
“Entah.” Hanya itu yang meluncur dari mulutku.
Jauh di dalam hatiku, aku berjanji akan membahagiakan Melati di saat-saat terakhirnya disini.

~~~~~

Sejak saat itu, aku menjadi sangat protektif terhadap Melati. Yah, bukan berarti protektif yang sampai melarang ini-itu segala. Maksudku, aku hampir selalu bersamanya. Kami (dan Olla, tentu saja) menjadi seperti lem. Belajar bareng, makan bareng, pulang bareng, ya semuanya selalu dilakukan bersama. Teman-teman sekelas dan guru-guru juga sudah tahu kalau Melati akan pindah. Makanya, mereka juga sering ngobrol-ngobrol dengannya.
Selama seminggu ini pula, kondisi fisik Melati berubah jauh dari biasanya. Tiba-tiba saja, ia sering mengeluh tentang nyeri-nyeri di badannya. Selain itu, dia juga sering sesak napas dan pusing. Bahkan sampai ia pingsan beberapa kali.

~~~~~

Senin, 28 Januari 2012.

Tibalah saatnya Melati untuk pindah. Wajahnya terlihat sedih saat akan pergi. Dan tiba-tiba aku merasakan firasat buruk.
“Mel, nanti kalo pulang, bawain oleh-oleh, yaw !” seru Olla.
“Iya.” Melati mengangguk.
Tepat sebelum Melati pergi, ia memberikan secarik kertas kepadaku. “Nanti bacanya abis gue udah pergi, ya,” begitu katanya.
Setelah Melati pergi, aku pun membuka kertas itu. Ternyata isinya adalah foto kami bertiga dan sebuah surat. Begini isinya:

Untuk sahabatku, Mytha dan Olla

Sebelumnya, gue minta maaf banget karena mungkin selama ini gue ngecewain kalian. Sebenarnya, gue punya alasan lain kenapa gue pindah ke Singapura.
Gue kesana karena gue punya masalah dengan jantung gue.
Dan itu terjadi dari gue masih kecil. Kata dokter, jantung gue semacam gak normal dan lemah gitu, jadi harus dioperasi. Ini operasi gue yang kesembilan kalinya, dan kata dokter itu, kemungkinan keberhasilannya 5%. Gue jadi yakin kalo perjalanan hidup gue berakhir di sini.
Makasih banget ya, udah mau jadi sahabat-sahabat gue yang terbaik. Kalo gak ada kalian, mungkin gue gak bisa bertahan sampai sekarang. Maafin juga ya, semua kesalahan-kesalahan gue selama gue masih sama kalian. Gue tahu gue tuh orang penyakitan, tapi kalian udah ngehargain gue apa adanya.
Nanti ketemu di mimpi, ya !
Sahabatmu, Melati

Aku terhenyak membacanya. Melati…sebegitu burukkah penyakitmu sampai harus seperti ini ?

~~~~~

Rabu, 30 Januari 2012, pukul 06.30.

2 hari sudah berlangsung tanpa kehadiran Melati. Jujur saja, hari-hariku terasa kosong, walaupun masih ada Olla yang menemaniku.
Saat aku sudah sampai di depan kelas, tiba-tiba Olla langsung menghambur dan mengguncang-guncang badanku.
“Mytha…,” isaknya, “…dia…”
Saat itulah aku tahu, firasatku terbukti.
“Melati kenapa, La ?” tanyaku sambil berusaha menenangkannya. Tangisan Olla malah makin meledak. Aku pun bergegas ke dalam, menaruh tas, dan melihat di kerumunan teman-temanku.
“Melati kenapa, sih ?! Kok jadi pada nangis gini ?!” seruku panik.
“Dia meninggal, Myt,” kata Micha, salah seorang temanku. Ia juga menangis. “Baru tadi malem jam 03.00. Lihat aja BlackBerry gue.”
Aku mengambil BlackBerry itu dari Micha dan membacanya:

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal sahabat tercinta kita Melati Astari pada pukul 03.00 di Singapura karena serangan jantung mendadak. Semoga amalannya diterima di sisi Allah SWT. Amin.”

Jantungku serasa berhenti saat membacanya. Shock mendengar sahabatku benar-benar pergi ‘tuk selamanya. Aku pun terduduk dan menangis. Menangis jauh lebih keras dan pilu dari mereka.

~~~~~

Pukul 10.00.

Aku hanya bisa menahan tangis ini melihat sahabatku sendiri dimakamkan di depan mataku. Ia dikubur di TPU Tanah Kusir, jadi tidak terlalu jauh dengan sekolahku.
“Makasih banyak ya Melati, udah jadi sahabat kita selama kamu masih disini. Kita gak bakal ngelupain kamu kok. Kita juga berharap semoga kamu tenang di alam sana.” Itulah kalimat terakhir yang kuucapkan pada Melati sebelum akhirnya kami kembali beraktivitas, tanpa kehadirannya di antara kami.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar